http://garudamiliter.blogspot.com/
Halaman
INDONESIA KU
Alat Utama Sistem Senjata semua mantra Tentara Nasional Indonesia Menuju MEF (minimum essential forces)
Sabtu, 21 Maret 2015
Sabtu, 09 Maret 2013
TNI Terjunkan Satgas Helikopter Ke Kongo
![]() |
| Helikopter Mi17 TNIAD |
Tahun 2013 ini TNI akan menerjunkan
satuan tugas (satgas) helikopter untuk misi perdamaian dunia Persatuan
Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo. Pengiriman satgas helikopter akan diikuti
pengiriman 120 prajurit ke Kongo, melanjutkan Mission de l'organisation
des Nations Unies en Republique Democratique du Congo (MONUC).
"Kami akan kirim tiga helikopter angkut jenis MI-17," kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono seusai menyambut kedatangan Kontingen Garuda XX-I dari Kongo dan KRI Sultan Hasanuddin-366, di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/1).
Panglima mengatakan pengiriman tiga unit helikopter tersebut untuk menindaklanjuti permintaan Sekjen PBB Ban Ki-moon pada Maret 2012. Helikopter Mi-17 adalah helikopter angkut kelas menengah rancangan Rusia. Saat ini helikopter diproduksi di dua pabrik, yaitu di Kazan dan Ulan-Ude. Helikopter ini adalah pengembangan dari helikopter jenis Mi-8 yang menjadi andalan Pakta Warsawa semasa Perang Dingin. Indonesia memiliki beberapa helikopter ini yang dioperasikan TNI-AD.
Menyambut kedatangan prajurit Satgas TNI Kontingen Garuda MTF XXVIII-D/Unifil Lebanon dan Kompi Zeni XX-I/Monusco, Panglima menyatakan pencapaian prajurit di sana telah mengukuhkan kepercayaan dan pengakuan dunia terhadap kemampuan TNI dan komitmen negara dalam peran aktif mewujudkan perdamaian dunia.
"Berbagai prestasi yang telah ditorehkan dalam setiap penugasan Satgas TNI kontingen Garuda pada misi perdamaian PBB harus terus kita jaga dan kita tingkatkan di masa yang akan datang, melalui pembinaan yang terencana dan terukur dengan baik," jelas Agus.
Tantangan
"Kami akan kirim tiga helikopter angkut jenis MI-17," kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono seusai menyambut kedatangan Kontingen Garuda XX-I dari Kongo dan KRI Sultan Hasanuddin-366, di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/1).
Panglima mengatakan pengiriman tiga unit helikopter tersebut untuk menindaklanjuti permintaan Sekjen PBB Ban Ki-moon pada Maret 2012. Helikopter Mi-17 adalah helikopter angkut kelas menengah rancangan Rusia. Saat ini helikopter diproduksi di dua pabrik, yaitu di Kazan dan Ulan-Ude. Helikopter ini adalah pengembangan dari helikopter jenis Mi-8 yang menjadi andalan Pakta Warsawa semasa Perang Dingin. Indonesia memiliki beberapa helikopter ini yang dioperasikan TNI-AD.
Menyambut kedatangan prajurit Satgas TNI Kontingen Garuda MTF XXVIII-D/Unifil Lebanon dan Kompi Zeni XX-I/Monusco, Panglima menyatakan pencapaian prajurit di sana telah mengukuhkan kepercayaan dan pengakuan dunia terhadap kemampuan TNI dan komitmen negara dalam peran aktif mewujudkan perdamaian dunia.
"Berbagai prestasi yang telah ditorehkan dalam setiap penugasan Satgas TNI kontingen Garuda pada misi perdamaian PBB harus terus kita jaga dan kita tingkatkan di masa yang akan datang, melalui pembinaan yang terencana dan terukur dengan baik," jelas Agus.
Tantangan
Penugasan berikutnya, kata Panglima, merupakan tantangan yang harus dijawab dengan pemikiran yang cerdas dan langkah yang tepat dalam menjaga kesiapan satuan. "Mengingat PBB meningkatkan atensinya terhadap 14 negara yang masih dilanda konflik, termasuk rekomendasi Dewan Keamanan PBB untuk meningkatkan deployment misi perdamaian PBB di Lebanon pada tahun 2013 hingga 15.000 personel, dan di Kongo yang saat ini telah berjumlah 16.819 personel," jelasnya.
Panglima TNI berharap Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) sebagai wadah penyiapan personel misi perdamaian dunia, untuk terus berupaya meningkatkan kesiapan, kapasitas dan kapabilitas Satgas. PMPP harus memperhatikan hasil evaluasi pelaksanaan tugas dan assessment yang terus menerus terhadap perkembangan situasi yang berlaku.
Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Madya Marsetio menambahkan, KRI Sultan Hasanuddin yang ditugaskan di bawah bendera PBB sejak Juni 2012 itu sukses membantu Maritime Task Force/United Nations Interim Force in Lebanon (MTF/Unifil). "Kapal kita telah berhasil melaksanakan hailing sebanyak 686 kontak kapal permukaan dan melaksanakan monitor military air activity sebanyak 135 kontak pesawat militer," kata Marsetio.
KRI Sultan Hasanuddin juga sukses bertindak sebagai MIO Commander sebanyak 13 kali, sebagai Anti Air Warfare Coordinator sebanyak 21 kali dan sebagai Hello Element Control sebanyak 18 kali. "Atas prestasinya, KRI Sultan Hasanuddin beserta awaknya telah menerima banyak penghargaan, termasuk penghargaan Lebanesse Armed Force Navy dari Pemerintah Lebanon," katanya.
Penghargaan itu didapat karena KRI Sultan Hasanuddin telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga perdamaian dan stabilitas maritim di Lebanon.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengatakan, TNI AL akan mengganti KRI Sultan Hasanuddin dengan KRI Diponegoro. KRI yang diawaki sekitar 100 prajurit itu juga akan bergabung dengan Maritime Task Force/United Nations Interim Force in Lebanon.
Pesawat Tempur Jerman Kawal Pesawat Kepresidenan RI
Setelah tiga hari melakukan kunjungan kenegaraan dan kerja di Berlin,
Jerman, Presiden SBY terbang menuju Budapest, Hungaria untuk melanjutkan
lawatannya.
Dalam penerbangannya, pesawat kepresidenan Airbus 330-300 dikawal oleh 2 Jet tempur milik Jerman. Pesawat kepresidenan take off dari Bandara Internasional Tegel, pukul 09.00 waktu Berlin atau pukul 15.00 WIB, Rabu (6/3/2013).
Setelah kurang lebih 15 menit mengudara, 2 pesawat jet tempur Jerman tipe Euro Fighter mengawal pesawat kepresidenan dari sisi kanan dan kiri.
Hanya sekitar 20 menit 2 pesawat jet tempur tersebut mengapit pesawat kepresidenan. Setelah melewati batas udara Jerman, 2 pesawat jet tempur tersebut meninggalkan pesawat kepresidenan.
Peristiwa ini menarik perhatian para rombongan yang ikut dalam pesawat kepresidenan. Mereka langsung mendokumentasikan momen tersebut.
Pengawalan yang disebut VVIP Escort ini merupakan prosedur tetap dari pihak militer Jerman bagi setiap kepala negara yang meninggalkan wilayah udara Jerman. Perjalanan dari Berlin menuju Budapest ditempuh dengan waktu 1,5 jam.
Presiden SBY melakukan kunjungan kenegaraan dan kerja ke Berlin, Jerman sejak 3-6 Maret 2013. Sementara itu pada 6-8 Maret Presiden SBY bersama para delegasi berada di Budapest, Hungaria dalam rangkaian kunjungan yang sama.
Dalam penerbangannya, pesawat kepresidenan Airbus 330-300 dikawal oleh 2 Jet tempur milik Jerman. Pesawat kepresidenan take off dari Bandara Internasional Tegel, pukul 09.00 waktu Berlin atau pukul 15.00 WIB, Rabu (6/3/2013).
Setelah kurang lebih 15 menit mengudara, 2 pesawat jet tempur Jerman tipe Euro Fighter mengawal pesawat kepresidenan dari sisi kanan dan kiri.
Hanya sekitar 20 menit 2 pesawat jet tempur tersebut mengapit pesawat kepresidenan. Setelah melewati batas udara Jerman, 2 pesawat jet tempur tersebut meninggalkan pesawat kepresidenan.
Peristiwa ini menarik perhatian para rombongan yang ikut dalam pesawat kepresidenan. Mereka langsung mendokumentasikan momen tersebut.
Pengawalan yang disebut VVIP Escort ini merupakan prosedur tetap dari pihak militer Jerman bagi setiap kepala negara yang meninggalkan wilayah udara Jerman. Perjalanan dari Berlin menuju Budapest ditempuh dengan waktu 1,5 jam.
Presiden SBY melakukan kunjungan kenegaraan dan kerja ke Berlin, Jerman sejak 3-6 Maret 2013. Sementara itu pada 6-8 Maret Presiden SBY bersama para delegasi berada di Budapest, Hungaria dalam rangkaian kunjungan yang sama.
Sumber : Detik
Jumat, 01 Maret 2013
TNI AD Berencana Beli 20 Helikopter Black Hawk
TNI Angkatan Darat (AD) akan membeli 20 unit helikopter tempur jenis
Black Hawk dari Amerika Serikat untuk memperkuat alat utama sistem
persenjataan (alutsista).
“Saya sedang berkomunikasi dengan satuan pembuat atau negara pembuat, Insya Allah kalau diizinkan dan data itu ada, kami akan membeli Black Hawk 20 unit dari Amerika,” kata KSDA, Jenderal TNI Pramono Edi Wibowo, kepada wartawan di Makodam Iskandar Muda Aceh, Senin (11/2/2013).
TNI AD, kata dia, juga memesan 20 unit helikopter serba guna jenis Bell 412 EP. Dari 20 unit yang dipesan, 10 unit di antaranya sudah kelar.
Heli tersebut akan dijadikan cadangan pusat dan dibagi kepada satuan-satuan utama TNI AD di Indonesia. “Agar lebih mudah untuk mengendalikan keamanan,” terang Pramono.
Menurutnya, penjagaan keamanan wilayah NKRI, khususnya di Aceh, saat ini berjalan baik. Kepada semua pihak di Aceh, Pramono berpesan agar terus menjaga perdamaian dan keamanan untuk pembangunan Aceh lebih baik.
“Saya sedang berkomunikasi dengan satuan pembuat atau negara pembuat, Insya Allah kalau diizinkan dan data itu ada, kami akan membeli Black Hawk 20 unit dari Amerika,” kata KSDA, Jenderal TNI Pramono Edi Wibowo, kepada wartawan di Makodam Iskandar Muda Aceh, Senin (11/2/2013).
TNI AD, kata dia, juga memesan 20 unit helikopter serba guna jenis Bell 412 EP. Dari 20 unit yang dipesan, 10 unit di antaranya sudah kelar.
Heli tersebut akan dijadikan cadangan pusat dan dibagi kepada satuan-satuan utama TNI AD di Indonesia. “Agar lebih mudah untuk mengendalikan keamanan,” terang Pramono.
Menurutnya, penjagaan keamanan wilayah NKRI, khususnya di Aceh, saat ini berjalan baik. Kepada semua pihak di Aceh, Pramono berpesan agar terus menjaga perdamaian dan keamanan untuk pembangunan Aceh lebih baik.
Black Hawk Jadi Alternatif Apache
Rencana pembelian helikopter Black Hawk asal Amerika Serikat menjadi alternatif jika negosiasi harga heli Apache buntu. Kalau anggaran alat utama sistem persenjataan tercukupi, rencana pembelian heli serbu ini ditargetkan rampung pada 2014 mendatang.
"(Pembelian Black Hawk) itu masih rencana dari bawah (TNI AD)," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Bambang Hartawan, kepada Tempo, Selasa, 12 Februari 2013. Dia mengatakan, harga heli Apache itu memang sangat mahal. "Hingga kini masih dalam tahap negosiasi," kata dia.
Pembelian delapan unit heli Apache Longbow AH 64D sebelumnya sudah mendapatkan persetujuan dari kongres Amerika Serikat. Namun, pembelian Apache maupun Black Hawk diakui masih terkendala anggaran. "Kalau anggarannya cukup semoga bisa terwujud," ujar Bambang.
Harga per unit heli Apache sendiri diperkirakan mencapai US$ 40 juta atau sekitar Rp 38,5 miliar. Kementerian Pertahanan dan TNI AD sebelumnya sudah menandatangani kontrak pengadaan heli serbu dan heli serang dengan PT Dirgantara Indonesia. Kontrak tersebut masing-masing bernilai US$ 90 juta dan US$ 170 juta.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo menyatakan minatnya untuk membeli 20 unit helikopter Black Hawk. "Kalau diizinkan dan ada dana, kami akan memesan sebanyak 20 unit dari Amerika Serikat," katanya, di Banda Aceh, kemarin.
Sumber : Okezone
Akhirnya TNI AD Jatuhkan Pilihan Ke Black Hawk
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo lebih memilih membeli helikopter Black Hawk daripada Apache.
Sebab harga Apache lebih mahal dua kali lipat daripada Black Hawk. "Kami masih mengkaji terus. Black Hawk menjadi pilihan bagus," kata Pramono di Mabes TNI AD, Senin (25/2).
Dijelaskannya, pada awal kunjungan ke pabrik helikopter di Amerika Serikat, harga Apache sebenarnya masih standar. Meski tidak menyebut harga, Pramono tampak kecewa ketika menjelang persetujuan pembelian harganya meningkat.
Karena hanya mendapat alokasi 200 juta dolar AS, pihaknya akhirnya lebih membeli helikopter Black Hawk. "Harga tidak boleh dinaikkan. Pas datang harga sesuai, pasti deal harga naik. Siapa yang menaikkan? Saya tidak tahu," cetus Pramono.
Terkait pengadaan tank tempur utama Leopard, Pramono mengatakan tinggal penyelesaian pembayaran. "Leopard pada tahap penyelesaian di Kemenhan," ujarnya.
Sebab harga Apache lebih mahal dua kali lipat daripada Black Hawk. "Kami masih mengkaji terus. Black Hawk menjadi pilihan bagus," kata Pramono di Mabes TNI AD, Senin (25/2).
Dijelaskannya, pada awal kunjungan ke pabrik helikopter di Amerika Serikat, harga Apache sebenarnya masih standar. Meski tidak menyebut harga, Pramono tampak kecewa ketika menjelang persetujuan pembelian harganya meningkat.
Karena hanya mendapat alokasi 200 juta dolar AS, pihaknya akhirnya lebih membeli helikopter Black Hawk. "Harga tidak boleh dinaikkan. Pas datang harga sesuai, pasti deal harga naik. Siapa yang menaikkan? Saya tidak tahu," cetus Pramono.
Terkait pengadaan tank tempur utama Leopard, Pramono mengatakan tinggal penyelesaian pembayaran. "Leopard pada tahap penyelesaian di Kemenhan," ujarnya.
China Gelontorkan 152 T Untuk Riset Engine Pesawat
Sekitar Rp
152 triliun untuk program pengembangan mesin pesawat buatan karya
mereka sendiri.
Dikutip dari Reuters, Kamis (28/2/2013), sumber dari kantor berita Xinhua mengatakan, pemerintah China ingin mengurangi ketergantungannya pada produsen pesawat asing seperti Boeing, Airbus, General Electric, dan Rolls Royce seiring dengan meningkatnya kebutuhan pesawat Negeri Tirai Bambu ini.
Sejauh ini, industri pesawat terbang China gagal membangun produk mesin pesawat yang andal, dan masih bergantung pada Rusia dan negara Barat baik untuk komersial maupun militer.
Xinhua juga mewawancarai seorang profesor ahli dirgantara dari Universitas Beijing yang mengetahui bahwa dana Rp 152 triliun itu akan digunakan China untuk melakukan pengembangan riset teknologi, desain, dan material untuk industri pesawat.
Proyek pengembangan pesawat lokal ini sedang dalam proses perizinan dari dewan negara.
Perusahaan yang akan mengikuti proyek ini disebut-sebut adalah Shenyang Liming Aero-Engine Group Corp, AVIC Xi'an Aero-Engine (Group) Ltd (600893.SS), dan banyak lembaga riset China lainnya.
Aviation Industry Corporation of China (AVIC) merupakan kontraktor pesawat komersial dan militer terbesar di China. Perusahaan in telah melobi pemerintah China untuk menggelontorkan dana besar guna membangun mesin jet berteknologi tinggi.
Saat in industri militer dan dirgantara China telah dilarang menjual produk-produknya karena embargo negara-negara Barat usai kerusuhan di Tiananmen.
Industri penerbangan China dikabarkan akan menggelontorkan 300 miliar yuan (US$ 49 miliar) guna mengembangkan mesin jet dalam dua dekade ke depan.
Dikutip dari Reuters, Kamis (28/2/2013), sumber dari kantor berita Xinhua mengatakan, pemerintah China ingin mengurangi ketergantungannya pada produsen pesawat asing seperti Boeing, Airbus, General Electric, dan Rolls Royce seiring dengan meningkatnya kebutuhan pesawat Negeri Tirai Bambu ini.
Sejauh ini, industri pesawat terbang China gagal membangun produk mesin pesawat yang andal, dan masih bergantung pada Rusia dan negara Barat baik untuk komersial maupun militer.
Xinhua juga mewawancarai seorang profesor ahli dirgantara dari Universitas Beijing yang mengetahui bahwa dana Rp 152 triliun itu akan digunakan China untuk melakukan pengembangan riset teknologi, desain, dan material untuk industri pesawat.
Proyek pengembangan pesawat lokal ini sedang dalam proses perizinan dari dewan negara.
Perusahaan yang akan mengikuti proyek ini disebut-sebut adalah Shenyang Liming Aero-Engine Group Corp, AVIC Xi'an Aero-Engine (Group) Ltd (600893.SS), dan banyak lembaga riset China lainnya.
Aviation Industry Corporation of China (AVIC) merupakan kontraktor pesawat komersial dan militer terbesar di China. Perusahaan in telah melobi pemerintah China untuk menggelontorkan dana besar guna membangun mesin jet berteknologi tinggi.
Saat in industri militer dan dirgantara China telah dilarang menjual produk-produknya karena embargo negara-negara Barat usai kerusuhan di Tiananmen.
Industri penerbangan China dikabarkan akan menggelontorkan 300 miliar yuan (US$ 49 miliar) guna mengembangkan mesin jet dalam dua dekade ke depan.
Korea Hentikan Pendanaan KFX untuk 2013
![]() |
| Desain KFX/IFX |
Juga merujuk pemberitaan media setempat, terungkap, langkah drastis tersebut terpaksa diambil karena Seoul sudah tak sabar menunggu jet tempur masa datangnya muncul sementara negara-negara di sekitarnya telah tampil dengan berbagai persenjataan baru yang mematikan. Mereka akhirnya mengaku berat menyandang beban tanggung-jawab pendanaan KFX sebesar 80% (Indonesia menanggung 20%) setelah Turki mengundurkan diri dari rencana keikutsertaannya. Korea Selatan tampak benar-benar cemas dengan kemunculan Sukhoi T-50 dari Rusia, indigenous stealth J-20 dari China, dan sebentar lagi ATD-X dari Jepang. Pengembangan roket balistik Korea Utara yang seakan tak terbendung AS – seperti Unha-3 yang akhir Desember ini akan diluncurkan -- pun ikut membuat mereka semakin panik.
“Korea Selatan tak bisa terus-menerus melihat perkembangan tersebut dengan hanya mengandalkan 120 jet tempur dari era 1980-an,” ujar sumber Angkasa. "Begitu pun Pemerintah Korea masih akan memegang komitmennya pada KFX dengan menyiapkan 4,15 juta dollar untuk melanjutkan feasibility study pada tahun 2014," tambahnya mengutip janji Pemerintah Korea Selatan.
Di tengah kepanikan itu, Seoul akan segera menjatuhkan pilihan untuk mengalihkan anggaran pertahanannya ke proyek pesawat tempur yang lebih canggih dari jet-jet tempur stealth yang dinilai menjadi ancaman serius bagi wilayah udaranya. Mereka akan segera memilih Boeing atau Lockheed Martin (LM) yang gencar menawarkan kerjasama pembuatan jet tempur generasi ke-5 yang diberi nama FX-III. Besar kemungkinan, pemerintah akan memilih Boeing yang telah menyodorkan konsep F-15 Silent Eagle ketimbang LM yang menjanjikan F-35 Lightning II versi murah meriah.
Jika bola bergulir tanpa hambatan, FX-III akan menjadi jet tempur generasi ke-5 pertama yang dirilis Paman Sam untuk negara luar. Korea Selatan kabarnya telah menyiapkan 10 triliun won atau sekitar 8,96 miliar dollar untuk pembuatan 60 unit pesawat ini. Besar kemungkinan situasi keamanan regional akan mendorong pembuatan pesawat ini lebih cepat setahun, sehingga rakyat Korea Selatan bisa melihat pesawat ini terbang pada 2015.
Rencana pembuatan FX-III pernah dibicarakan pada 1990-an, namun terlupakan akibat terjangan krisis finansial dunia pada 1997 dan 2008. Oleh karena KFX melibatkan Indonesia, kelanjutan perancangan jet tempur yang telah dimulai sejak dua tahun lalu ini pun menempatkan Indonesia di persimpangan jalan. Pemerintah Korea Selatan tak pernah mengatakan proyek ini dihentikan, namun penghentian anggaran untuk KFX dan beralihnya perhatian Korea Selatan ke program FX-III semestinya perlu dicermati secara serius.(adr)
● Angkasa
Indonesia China Matangkan Kerjasama Produksi Rudal, UAV Dan System Pertahanan Elektronik
Indonesia dan
Republik Rakyat China sepakat memperluas kerja sama pertahanan untuk
meningkatkan profesionalisme angkatan bersenjata kedua negara, hubungan
lebih baik kedua pihak serta guna mendukung stabilitas keamanan kawasan
khususnya di Asia.
Demikian pokok bahasan dalam Forum ke-5 Konsultasi Pertahanan Indonesia-China di Beijing, Kamis. Dalam forum itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedangkan delegasi China dipimpin Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata China Letnan Jenderal Qi Jian Guo.
Dalam dokumen resmi yang diterima ANTARA di Beijing, dalam pertemuan tertutup itu dibahas berbagai kerja sama pertahanan yang telah dijalin dan akan dilakukan di masa depan oleh kedua negara.
Sejak Forum Konsultasi Pertahanan Indonesia-China dibentuk pada 2007 berbagai kerja sama telah dilakukan kedua negara seperti pendidikan perwira, latihan bersama pasukan khusus kedua negara, pelatihan pilot pesawat tempur Sukhoi TNI-Angkatan Udara, kerja sama industri pertahanan dan pembelian sejumlah alat utama sistem senjata.
Untuk bidang pendidikan dan pertukaran perwira, sejak 1967 sudah 107 personel militer Indonesia yang belajar di China. Saat ini tercatat 12 orang perwira militer Indonesia yang belajar di China, demikian dikutip dari dokumen itu.
Sedangkan China hingga kini telah mengirimkan delapan orang perwira militernya.
Untuk latihan bersama, Indonesia dan China telah dua kali menggelar latihan bersama antara Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat dengan Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata China (People's Liberation Army/PLA) dengan sandi "Sharp Knife".
Kerja sama antarpasukan khusus dalam penanggulangan terorisme, akan terus ditingkatkan dan diperluas. Kedepan mungkin dapat dilakukan latihan bersama untuk menghadapi ancaman non tradisional seperti penanggulangan bencana alam, demikian sperti dikutip dalam dokumen itu.
Sedangkan dalam bidang industri pertahanan kedua negara telah sepakat untuk memproduksi bersama rudal C-705. Hingga kini Indonesia dan China masih membahas proses pelaksanaan alih teknologi dalam pembuatan rudal C-705.
Selain C-705 Indonesia dan China akan membahas lebih lanjut alih teknologi pesawat tanpa awak, serta sistem pertahanan elektronik
Forum ke-5 Konsultasi pertahanan Indonesia-China, yang berlangsung hingga Kamis petang juga dibahas berbagai perkembangan situasi keamanan regional khususnya di Asia Pasifik, termasuk isu di Laut China Timur dan Laut China Selatan.
Demikian pokok bahasan dalam Forum ke-5 Konsultasi Pertahanan Indonesia-China di Beijing, Kamis. Dalam forum itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedangkan delegasi China dipimpin Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata China Letnan Jenderal Qi Jian Guo.
Dalam dokumen resmi yang diterima ANTARA di Beijing, dalam pertemuan tertutup itu dibahas berbagai kerja sama pertahanan yang telah dijalin dan akan dilakukan di masa depan oleh kedua negara.
Sejak Forum Konsultasi Pertahanan Indonesia-China dibentuk pada 2007 berbagai kerja sama telah dilakukan kedua negara seperti pendidikan perwira, latihan bersama pasukan khusus kedua negara, pelatihan pilot pesawat tempur Sukhoi TNI-Angkatan Udara, kerja sama industri pertahanan dan pembelian sejumlah alat utama sistem senjata.
Untuk bidang pendidikan dan pertukaran perwira, sejak 1967 sudah 107 personel militer Indonesia yang belajar di China. Saat ini tercatat 12 orang perwira militer Indonesia yang belajar di China, demikian dikutip dari dokumen itu.
Sedangkan China hingga kini telah mengirimkan delapan orang perwira militernya.
Untuk latihan bersama, Indonesia dan China telah dua kali menggelar latihan bersama antara Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat dengan Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata China (People's Liberation Army/PLA) dengan sandi "Sharp Knife".
Kerja sama antarpasukan khusus dalam penanggulangan terorisme, akan terus ditingkatkan dan diperluas. Kedepan mungkin dapat dilakukan latihan bersama untuk menghadapi ancaman non tradisional seperti penanggulangan bencana alam, demikian sperti dikutip dalam dokumen itu.
Sedangkan dalam bidang industri pertahanan kedua negara telah sepakat untuk memproduksi bersama rudal C-705. Hingga kini Indonesia dan China masih membahas proses pelaksanaan alih teknologi dalam pembuatan rudal C-705.
Selain C-705 Indonesia dan China akan membahas lebih lanjut alih teknologi pesawat tanpa awak, serta sistem pertahanan elektronik
Forum ke-5 Konsultasi pertahanan Indonesia-China, yang berlangsung hingga Kamis petang juga dibahas berbagai perkembangan situasi keamanan regional khususnya di Asia Pasifik, termasuk isu di Laut China Timur dan Laut China Selatan.
Sumber : Antara
Situasi Politik Korsel Pengaruhi Program KFX/IFX
Meski tetap berusaha optimis, sinar kegalauan tampak tak bisa
ditepis dari wajah Prof. Dr. Eddy S. Siradj. Dalam Lokakarya Dewan
Penerbangan dan Antariksa Nasional RI yang berlangsung Kamis (20/12) di
Gedung BPPT, Jakarta, dengan bersemangat Kabalitbang Kementerian
Pertahanan ini memaparkan panjang lebar kisah perancangan jet tempur
masa depan KFX/IFX (Korean-Indonesian Fighter Experiment) yang tengah digarap Indonesia dan Korea Selatan. Proyek prestise bilateral ini dikatakan baru saja menyelesaikan tahapan Technology Development, dan akan masuk ke tahapan Engineering Manufacturing Development. Ia tak bergeming ketika sejumlah peserta lokakarya menanyakan soal kesanggupan teknis dan finansial Indonesia.
“Kebijakan pemerintah untuk bekerja sama dengan Korea Selatan membuat KFX/IFX sudah disepakati pada 2009. Pemerintah optimis, masak saya selaku pelaksana tidak optimis?” tangkis Eddy menjawab pertanyaan kritis pengamat kedirgantaraan Chappy Hakim soal penyelesaian program ini. Mantan KSAU ini juga mempertanyakan kenapa justru bekerja sama dengan Korea? Ia rupanya risau terhadap efek Korea sebagai negara yang masih dalam status perang (dengan Korea Utara). Dalam kondisi seperti itu dikuatirkan Indonesia hanya akan menjadi bagian dari kepentingan Korea. Chappy juga mengkritisi soal KFX/IFX yang masih terbilang varian F-16. “Kenapa kita tidak buat yang benar-benar baru saja sekalian?” tanyanya.
Tapi lain halnya ketika Angkasa menanyakan soal upaya pemotongan anggaran pengembangan KFX untuk 2013 yang telah digelindingkan Pemerintah Korea. Rona wajahnya segera berubah. Ia tiba-tiba agak galau. “Ya itu, memang masalah itu pula yang tengah merundung teman-teman enjinir KFX/IFX di sana. Kini di Korea, untuk penggarapan proyek ini, ada 140 enjinir, 30 persen di antaranya dari Indonesia. Mereka masih sama-sama menunggu keputusan yang akan dibuat Parlemen Korea. Keputusan itu belum ada karena Korea baru akan membentuk parlemen yang baru usai terpilihnya Park Geun-hye sebagai presiden belum lama ini. Kini, kelangsungan KFX/IFX memang praktis tergantung pada situasi politik di sana,” tuturnya.
Seperti diberitakan www.angkasa.co.id, 6 Desember lalu, pemerintah Korea akan memotong anggaran pengembangan KFX untuk 2013 atas pertimbangan perkembangan ancaman dan keamanan regional, serta oleh sebab pembatalan keikutsertaan Turki dalam proyek ini. Di lain pihak, oleh karena China dan Jepang telah sama-sama membuat jet tempur generasi ke-5, Pemerintah Korea belakangan kian tertarik pada pesawat tempur setingkat yang telah lama ditawarkan Boeing, AS, yakni F-15 Silent Eagle. Pengalihan perhatian ini dikuatirkan akan menyedot anggaran yang tak kecil dan akan mengganggu proyek KFX/IFX yang sedang berjalan.
Mendampingi Eddy Siradj, Prof. Dr. Muljo Widodo, salah seorang pimpinan Tim Enjinir Indonesia, menjelaskan, kedua pihak sudah menyelesaikan tahap Feasibility Study dan Technology Development, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selanjutnya kedua tim akan masuk ke tahapan Engineering Manufacturing Development lalu terakhir Production. Kedua tim telah mengurai ada sebanyak 432 core technology yang akan diemban jet tempur generasi 4,5 ini, di mana 48 di antaranya belum dikuasai. Teknologi yang masih harus dipelajari ini umumnya ada di seputar kemampuan menghindar dari radar. Begitu pun kedua pihak sudah saling mengetahui kelebihan masing-masing.
Lain politisi, lain pula yang dipikirkan kaum teknokrat. Dua tahun bekerjasama rupanya telah membuat kedua tim enjinir mengenal cukup mendalam. Di mata tim Indonesia, Korea dinilai telah memiliki kemampuan membuat hampir semua sub-sistem yang diperlukan KFX. Sementara di mata tim Korea, Indonesia dinilai luar dugaan karena telah menguasai segi Air Combat System yang semula dianggap amat sulit. Jika semua tahapan berjalan lancar, Block 1 dari pesawat ini akan masuk tahapan produksi pada 2020. Setelah itu, kedua negara akan berpisah melakukan sendiri proses upgrading sesuai kebutuhan masing-masing. Namun, sekali lagi, jalan ke arah itu akan ditentukan perkembangan mendatang, setelah Parlemen Korea yang baru terbentuk.
● Angkasa
Antara Apache dan Super Cobra
| Super Cobra |
Meski helikopter ini akan dibeli untuk memperkuat Penerbad, Pemerintah RI seyogyanya menyimak pula pertimbangan Marinir AS. Alasannya ternyata simpel saja. Di antaranya, pertama, yakni bahwa Super Cobra mudah diterbangkan. Bagi Marinir AS ini sangat penting untuk melatih para penerbangnya. Mantan penerbang heli CH-46 Sea Knight AS mengaku cukup melakukan familiarisasi 45 menit untuk bisa menerbangkan heli yang ukurannya lebih mungil dari Apache ini. Oleh karena bodinya yang mungil ini pula, sang heli mudah diangkut kemana-mana dengan kapal perang atau pesawat angkut.
![]() |
| Apache AH64D |
Di Irak, Apache toh merupakan andalan AD AS untuk menghajar tank-tank Irak. Begitu pun, kemampuan ini muncul bukan karena kelincahannya, tetapi oleh karena dia memiliki rudal antitank Hellfire yang bisa ditembakkan dari jarak jauh. Tapi kalau untuk pertempuran jarak dekat, kebanyakan tentara AS mengaku lebih menyukai Super Cobra. Itu sebab Super Cobra kerap disebut sebagai rajanya pertempuran jarak dekat. Kabarnya, jika saat ini harga Apache sudah melambung jadi 35-40 juta dollar per unit, Super Cobra masih di sekitar angka 15-20 juta dollar.
| UH60 Blackhawk |
Super Cobra adalah varian atau revisi perbaikan dari
Cobra. Revisi dilakukan setelah AD AS menemukan berbagai kekurangan
Cobra di medan pertempuran di Asia. Super Cobra memiliki jangkauan
tempur tiga kali lebih jauh dan mampu mengangkut persenjataan dua kali
lebih banyak dari Cobra. Heli serang berkursi dua ini adalah buatan Bell
Textron. Versi pertamanya, AH-1W, dengan baling-baling berbilah dua,
diproduksi tahun 1986. Pada tahun 2000, Bell Textron merevisinya menjadi
AH-1Z yang jauh lebih powerfull, baling-baling berbilah empat, dengan
sistem pembidikan target yang lebih canggih.
Lalu bagaimana dengan UH-60 Blackhawk. Dibanding Apache dan Super Cobra, heli ini tentu jauh lebih “lembut”. Itu karena pada dasarnya Blackhawk lebih dirancang untuk angkut pasukan. Dia memang bisa diperlengkapi persenjataan untuk serang darat, tapi bodinya yang besar akan menyulitkan dirinya melakukan manuver serangan itu di udara.
Jadi baiknya, pilih yang mana ya?
Lalu bagaimana dengan UH-60 Blackhawk. Dibanding Apache dan Super Cobra, heli ini tentu jauh lebih “lembut”. Itu karena pada dasarnya Blackhawk lebih dirancang untuk angkut pasukan. Dia memang bisa diperlengkapi persenjataan untuk serang darat, tapi bodinya yang besar akan menyulitkan dirinya melakukan manuver serangan itu di udara.
Jadi baiknya, pilih yang mana ya?
Sumber : ARC
Proyek KFX RI-Korsel Dihentikan Karena Korea Utara
Proyek pembangunan pesawat tempur bersama antara
Indonesia-Korea Selatan, Korean Fighter Experiment (KFX), yang
dibatalkan ternyata memang sudah banyak diragukan sejak awal.Menurut Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR, Tubagus Hasanuddin, ada berbagai keraguan yang muncul di kalangan pemerhati militer, hubungan internasional, dan industri senjata atas proyek itu.
" Pertama, karena kalau membuat pesawat supercanggih dengan Korsel, itu bisa memperburuk politik luar negeri Indonesia. Kaitannya dengan Korea Utara. Kalau dilanjutkan, seakan ada keberpihakan kita untuk membuat senjata penghancur Korut," jelas Hasanuddin di Jakarta, Jumat (1/3).
Kedua, teknologi KFX itu ujung-ujungnya adalah teknologi dari Amerika Serikat, yang menimbulkan keraguan bahwa keberlangsungan proyek akan sangat tergantung dengan kepentingan AS di regional Asia Pasifik.
" Ini pertanyaan, kenapa kita tak kerjasama dengan negara yang jauh dari kepentingan kawasan? Saat itu pernah disarankan kita kerjasama dengan Turki yang lokasi kawasannya jauh," tutur Politisi PDI Perjuangan itu.
Dia melanjutkan bahwa secara pribadi menilai harus ada langkah negara untuk berusaha mempertahankan keberlanjutan proyek itu. Dengan demikian, kerugian negara bisa dihindarkan.
" Saya kira pemerintahan selanjutnya harus meneruskan proyek ini. Jangan sampai kerugian ini pergi begitu saja," tandas Purnawirawan TNI bintang dua itu.
Sebelumnya, Hasanuddin menyatakan bahwa proyek KFX itu sudah dihentikan secara sepihak. Akibatnya, negara dirugikan sekitar Rp 1,6 triliun dari uang yang sudah disetorkan ke proyek itu.
" Kami sudah mendapatkan informasi, dalam beberapa hari belakangan ini, Pemerintah Korea Selatan sudah membatalkan secara sepihak perjanjian pembuatan pesawat tempur KFX," kata Hasanuddin.
Dia menjelaskan bahwa sebenarnya proyek KFX itu tak pernah secara jelas dilaporkan Pemerintah ke DPR. Selama ini, pihaknya hanya mendapat laporan dari pernyataan Kementerian Pertahanan yang dikutip media massa.
Secara resmi, Pemerintah tak pernah mengajukan anggaran untuk Proyek KFX ke DPR secara resmi dan terbuka.
" Dibikin untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan. Kemenhan mengeluarkan uang Rp 1,6 T. Selain itu sudah ada sekitar 30 orang dari PT.DI yang ikut mendisain pesawat itu di Korea Selatan," ujar Politisi PDI Perjuangan itu.
Kerjasama Indonesia-Korea Selatan untuk membangun pesawat supercanggih, yang dianggap jauh lebih canggih dari pesawat tempur F-16, sudah bergulir sejak 2001.
Proyek itu dibiayai secara bersama oleh Indonesia dan Korea Selatan, dengan pihak Indonesia diwajibkan menyetor sekitar 20 persen dari total US$ 8 miliar ( Rp 77,4 triliun) yang dibutuhkan.
Seorang Pejabat Kementerian Pertahanan Indonesia pernah menyatakan bahwa Pemerintah sudah menganggarkan Rp 1,35 triliun untuk keperluan proyek itu. Harapannya tahun ini akan ada lima prototipe pesawat tempur yang sudah selesai.
Proyek Pesawat Tempur KFX-Korea Distop, Negara Diduga Rugi Rp 1,6 T
Proyek pembangunan pesawat tempur canggih Indonesia-Korea Selatan, Korean Fighter eXperiment (KFX), yang dibangga-banggakan ternyata sudah dihentikan secara sepihak.
Akibatnya, negara dirugikan sekitar Rp 1,6 triliun dari uang yang sudah disetorkan pada proyek tersebut.
"Kami sudah mendapatkan informasi, dalam beberapa hari belakangan ini, Pemerintah Korea Selatan sudah membatalkan secara sepihak perjanjian pembuatan pesawat tempur KFX," kata Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR, Tubagus Hasanuddin, di Jakarta, Jumat (1/3).
Dia menjelaskan, sebenarnya proyek KFX itu tak pernah secara jelas dilaporkan pemerintah ke DPR.
Secara resmi, lanjut dia, pemerintah tak pernah mengajukan anggaran secara resmi dan terbuka kepada DPR untuk proyek KFX. DPR hanya mendapat laporan dari pernyataan Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang dikutip media massa.
" Dibikin untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan. Kemhan mengeluarkan uang Rp 1,6 triliun. Selain itu, sudah ada sekitar 30 orang dari PT Dirgantara Indonesia (DI) yang ikut mendesain pesawat itu di Korea Selatan," ujar Politisi PDI Perjuangan itu.
Dalam waktu dekat, lanjutnya, Komisi I DPR akan segera memanggil Panglima TNI dan Menteri Pertahanan untuk menjelaskan detil masalah terkait proyek KFX tersebut. " Kerugian ini tanggung jawab Menteri Pertahanan," tandasnya.
Dia juga menyebutkan pembatalan pihak Korea Selatan itu diduga karena masa pemerintahan Presiden SBY akan segera berakhir tahun depan.
Kerjasama Indonesia-Korea Selatan untuk membangun pesawat super canggih, di atas pesawat tempur F-16, sudah bergulir sejak 2001. Proyek itu dibiayai bersama oleh Indonesia dan Korea Selatan. Pemerintah Indonesia diwajibkan menyetor sekitar 20 persen dari total dana US$ 8 miliar (Rp 80 triliun) yang dibutuhkan.
Seorang pejabat Kemhan pernah menyatakan pemerintah sudah menganggarkan Rp 1,35 triliun untuk keperluan proyek itu. Harapannya tahun ini akan ada lima prototipe pesawat tempur yang sudah selesai.
Penundaan Jet Tempur Buatan RI-Korea Jangan Berlarut-larut
Senayan | Penundaan pembuatan pesawat jet tempur Korea Fighter
Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang dilakukan bersama
Korea Selatan sangat merugikan Indonesia. Karena, itu dapat mengganggu
jadwal upaya modernisasi alutsista TNI.
"Komisi I berharap, alasan teknis penundaan sementara produksi bersama pesawat tempur itu tidak berlarut-larut. Karena jika itu terjadi, jelas akan merugikan pihak Indonesia," ujar Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq kepada JurnalParlemen, Jumat (1/3).
Mahfudz mengatakan, hingga kini pihaknya belum tahu soal alasan yang sebenarnya penundaan itu. Karenanya, masalah ini akan disinggung saat rapat kerja antara Komisi I dengan Kementerian Pertahanan.
"Jujur saja, kita belum tahu alasan sebenarnya penundaan produksi pesawat tempur dengan Korsel itu. Apakah hanya semata alasan teknis saja, atau ada alasan lainnya. Ini yang kita belum tau, dan Komisi I perlu mendapat penjelasan dalam kaitannya ini," tukasnya.
Mahfudz pun meminta Kemenhan untuk mengantisipasinya dengan mencari kerjasama di bidang pertahanan, alih tekhnologi dan produksi Alutsista dengan negara lain yang memiliki sistem pertahanan modern.
Sebenarnya, Komisi I selama ini telah mendorong Kemenhan untuk juga membuka kerjasama pertahanan yang lebih luas dengan Turki sebagai negara bagian NATO yang punya alutsista produksi sendiri. Dan selama ini pihak Turki telah menawarkan diri kepada Indonesia untuk bekerjasama. "Sayangnya Pemerintah RI sejauh ini belum merespons tawaran itu," tukasnya.
"Komisi I berharap, alasan teknis penundaan sementara produksi bersama pesawat tempur itu tidak berlarut-larut. Karena jika itu terjadi, jelas akan merugikan pihak Indonesia," ujar Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq kepada JurnalParlemen, Jumat (1/3).
Mahfudz mengatakan, hingga kini pihaknya belum tahu soal alasan yang sebenarnya penundaan itu. Karenanya, masalah ini akan disinggung saat rapat kerja antara Komisi I dengan Kementerian Pertahanan.
"Jujur saja, kita belum tahu alasan sebenarnya penundaan produksi pesawat tempur dengan Korsel itu. Apakah hanya semata alasan teknis saja, atau ada alasan lainnya. Ini yang kita belum tau, dan Komisi I perlu mendapat penjelasan dalam kaitannya ini," tukasnya.
Mahfudz pun meminta Kemenhan untuk mengantisipasinya dengan mencari kerjasama di bidang pertahanan, alih tekhnologi dan produksi Alutsista dengan negara lain yang memiliki sistem pertahanan modern.
Sebenarnya, Komisi I selama ini telah mendorong Kemenhan untuk juga membuka kerjasama pertahanan yang lebih luas dengan Turki sebagai negara bagian NATO yang punya alutsista produksi sendiri. Dan selama ini pihak Turki telah menawarkan diri kepada Indonesia untuk bekerjasama. "Sayangnya Pemerintah RI sejauh ini belum merespons tawaran itu," tukasnya.
Sumber : Garuda Meliter
JAT Kedatangan Tamu Seprofesi BJT Dari Perancis
Home base Jupiter Aerobatic Team (JAT)
berbeda dari biasanya, mulai (26-28/2) kedatangan rival seprofesinya
dalam mengukir dirgantara yaitu Breitling Jet Team (BJT) yang bermarkas
di Dijon Prancis.
Mereka datang melintasi langit Yogyakarta menggunakan tujuh pesawat L 39 C Albatros dan landing menggunakan run way two nine.
Kunjungan tim Brietling ke Indonesia
merupakan “rangkaian tour dunia dan tim ini telah melaksanakan Tour ke
Asia Tenggara sebelum ke Indonesia.
Brietling Jet Team telah singgah ke
beberapa negara seprti Philipina, Singapura, Thailan, Malaysia dan
Indonesia. Di Indonesia BJT singgah di dua kota yaitu Yogyakarta dan
Jakarta, ujar Citra Yahya Humas BJT di Indonesia
Rencananya BJT take off hari kamis
(28/2) dari Home base JAT dan akan melaksanakan penerbangan bersama JAT
di atas Candi Borobudur yang merupakan Heritage world.
BJT adalah tim aerobatic profesional
sipil terbesar didunia. Setiap penampilannya BJT selalu menyuguhkan
manuver yang mengundang decak kagum.
Formasi yang kas dari BJT antara lain Rocket, Crossbow, Black Diamont, Blackbird, Avenger dan dan arrowhead.
Namun sayang selama di Yogyakarta BJT
tidak melaksanakan acrobatic dan baru bermanuver khasnya di atas Lanud
halim Perdana Kusuma.
Brieting Jet Team yang bermarkas di
Dijon Prancis dibentuk tahun 2003 dan diawaki oleh Jacques”speedy”
Bothelin (leader), Patrick “Gaston” Marchand, Christophe “Douky”
Deketelaera, Francois”Ponpon” Ponsot, Bernard “Charbo” Charbonnel dan
Frederic “Fredo” Schweil.
Di Home base JAT kemarin diterima oleh
Kepala Dinas Operasi lanud Adi Sutjipto Kol Pnb Minggit Tribowo dan
Komandan Skadron Pendidikan 102 Letkol Pnb Dedy Susanto, SE.
Sumber : TNI AU
BJT Siap Beraksi Di Langit Jakarta
Breitling Jet Team—tim
aerobatik sipil profesional pertama di dunia yang menggunakan pesawat
jet, siap beraksi di langit Jakarta, Sabtu (2/3/2013) nanti.
Aksi
tim aerobatik yang bermarkas di kota Dijon, Perancis, ini, bisa
disaksikan di sekitar Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta
Timur, sekitar pukul 14.00-15.00 WIB.
Penampilan mereka akan melibatkan bintang tamu tim aerobatik Jupiter dari TNI Angkatan Udara.
Breitling
Jet Team (BJT), yang merupakan tim aerobatik khusus pertunjukan terdiri
atas tujuh pesawat jet latih tempur L-39 C Albatros buatan Republik
Ceko.
Mereka diawaki oleh para pilot profesional yang sebagian
besar berpengalaman menjadi pilot pesawat tempur di Angkatan Udara
Perancis. Tim tersebut disponsori secara eksklusif oleh pabrikan arloji
asal Swiss, Breitling.
Ketua Tim BJT, Jacques "Speedy" Bothelin,
mengatakan, penampilan mereka di Indonesia ini menjadi bagian dari tur
ke Asia yang direncanakan akan berlangsung sepanjang tahun 2013.
"Di Asia Tenggara, kami tampil di Filipina, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand," tutur Bothelin.
Mereka
telah tiba di Indonesia beberapa hari lalu, tepatnya di Lanud Adi
Sucipto, Yogyakarta. Kemudian pada Kamis pagi, mereka melakukan terbang
lintas di atas Candi Borobudur sebelum terbang menuju Lanud Halim
Perdanakusuma di Jakarta.
Pihak Time International, sebagai
distributor arloji merek Breitling di Indonesia dan bertindak sebagai
penyelenggara acara ini mengatakan, acara di lingkungan Lanud Halim
Perdanakusuma hanya diperuntukkan bagi para undangan.
"Namun
masyarakat umum bisa menyaksikan aksi Breitling Jet Team dari sekitar
Bandara Halim Perdanakusuma," tutur Hafni Damayanti, Client Services
Manager Time International , Kamis (28/2/2013).
Sumber : Kompas
3 Flight Pesawat Tempur F-16 Laksanakan OSUS
Setelah melakukan persiapan, tiga flight pesawat tempur dari Lanud
Iswahjudi yang terdiri dari dua pesawat tempur F-16 faighting Falcon,
dua pesawat tempur F-5 E/F Tiger II dan dua pesawat tempur Hawk MK 53,
terbang melaksanakan Operasi Serangan Udara Strategis (OSUS) untuk
menghancurkan “center of grafity” kekuatan musuh.
Masing-masing pesawat tempur yang dilengkapi persenjataan berupa bom
dan roket tersebut berhasil mengenai target yang telah ditentukan,
sehingga kekuatan musuh benar-benar telah lumpuh dan sudah tidak ada
kemampuan untuk melakukan perlawanan maupun penyerangan terhadap wilayah
NKRI.
Sementara itu sisa kekuatan musuh yang ada, selanjutnya dihancurkan
oleh kekuatan pasukan kawan yang telah berada di garis depan pertempuran
dan tiga flight pesawat tempur yang telah berhasil menghancurkan
obyek-obyek vital kekuatan musuh telah kembali ke pangkalan dan mendarat
dengan aman dan selamat di Lanud Iswahjudi. Dalam pertempuran tersebut
terdapat korban dari pihak pasukan kita, sehingga diterjunkan tim SAR
untuk mengambil korban serta mengevakuasi dengan Heli Colibri ke Lanud
Iswahjudi guna mendapat penanganan medis selanjutnya di rumah sakit
Iswahjudi.
Hal tersebut merupakan skenario operasi udara dalam latihan hari
ketiga “Elang Gesit tahun 2013” yang digelar Lanud Iswahjudi. Target
penembakan dilaksanakan di ASR Pulung yang diasumsikan sebagai pusat
kekuatan musuh. Setelah dilakukan tahapan evaluasi dan konsolidasi serta
dinyatakan kekuatan musuh telah dapat dihancurkan, maka operasi udara
dinyatakan selesai.
Sumber : Poskota
Paket Empat Engine Sukhoi Tiba Di Makassar
Setelah beberapa hari lalu dua Pesawat
Tempur SU-30 MK 2 dari 6 Pesawat pesanan pemerintah Indonesia buatan
Rusia memperkuat Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Tim
penerimaan kedatangan Pesawat tempur Sukhoi Lanud Sultan Hasanuddin Rabu
malam (27/2) kembali disibukan untuk menerima kedatangan empat engine
Pesawat tempur Sukhoi 27/30 yang diangkut dengan menggunakan Pesawat
Antonov AH-124-100 Flight Number RA/82043 dengan Pilot Ustelenov.
Kedatangan Pesawat AH-124-100 yang
parkir di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin tersebut disaksikan oleh
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Barhim, Para
Kepala Dinas, Komandan Satuan, Tim dari Kemhan, Mabes TNI dan Mabesau
serta Pejabat dari PT Trimarga Rekatama.
Pesawat AH-124-100 mempunyai panjang
badan 68.96 m dan lebar sayap 73.3 m serta tinggi 20.78 m, yang membawa
empat engine pesawat tempur SU-27/30 buatan KNAPO (Komsomolsk-na Amure
Aircraft Production Association) Rusia, Take off dari Bandara Dzemgi
Rusia Selasa (26/2) dengan rute penerbangan Bandara Dzemgi Rusia-
Bandara Calcutta (India) - Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, yang
merupakan satu rangkaian tahapan dari kedatangan enam unit pesawat
Temnpur SU-30 MK2 pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia.
Sumber : TNI AU
Dua Sukhoi Su-30MK2 TNI AU Tiba Di Makassar
Dua
pesawat tempur Sukhoi tipe SU-30 MK 2 tiba di Pangkalan Udara (Lanud)
Sultan Hasanuddin TNI Angkatan Udara, Jumat (22/2/13) malam ini.
Dua
dari enam pesawat pesanan pemerintah Republik Indonesia buatan Rusia
ini, mendarat mulus yang diangkut dengan pesawat Antonov AN-124-100
Flight Number VDA 613 yang dibawa pilot Gorbunov Vladimir beserta 17 kru
pesawat.
Pesawat
angkut AN-124-100 tersebut berangkat dari Bandara Dzemgi, Rusia, Rabu
(20/2/13) pukul 00.30 UTC. Dengan rute penerbangan bandara Dzemgi Rusia
lalu ke Bandara Ninoy Aq Manila hingga tiba ke Lanud Sultan Hasanuddin
Makassar, Mandai, Kabupaten Maros.
Kepala
Penerangan Lanud TNI AU Sultan Hasanuddin, Mayor Mulyadi, mengatakan,
kedatangan dua pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK 2 ini menambah kekuatan
Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin sebagai home base
pesawat tempur SU-27 SKM dan SU-30 MK 2 buatan KNAPO (Komsomolsk-na
Amure Aircraft Production Association) Rusia.
Sebelumnya,
sudah ada 10 unit pesawat tempur Sukhoi SU-27 SKM dan SU-30 MK 2 yang
datang secara bertahap pada tahun 2003 lalu di Lanud Iswahyudi, Madiun.
Selanjutnya di Lanud Sultan Hasanuddin pada 2009 dan 2010.
Jika enam pesawat pesanan tahun 2013 ini datang semuanya, maka TNI AU memiliki total 16 Sukhoi.
Sumber : MakassarTribun
Sukhoi TNI AU Dalam Perjalanan Ke Makassar
TNI
Angkatan Udara kembali menambah kekuatan udaranya dengan kedatangan dua
unit jet tempur Flanker, yaitu dua Sukhoi SU-30 MK2. Dua pesawat tempur
pesanan pemerintah Indonesia itu sudah diangkut dengan pesawat
AN-124-100.
Direncanakan
pesawat pengangkut raksasa tersebut mendarat di Lanud Sultan Hasanuddin
Makassar sekitar pukul 22.15 Wita, Jumat (22/2).
"Pesawat angkut
AN-124-100 Flight Number VDA 6132 diterbangkan oleh Gorbunov Vladimir,
berangkat dari Bandara Dzemgi Rusia, Rabu (21/2) pukul 00.30 UTC dengan
rute Bandara Nonoy Aquino Manila langsung menuju Lanud Sultan Hasanuddin
Makassar," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman
Yunus, Jumat (22/2).
Kedua Sukhoi
SU-30 MK2 akan menambah kekuatan Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan
Hasanuddin Makassar. Dua pesawat tempur pemburu ini bergabung dengan SU
27-SKM dan SU-30 MK2 terdahulu.
"Saat ini TNI
Angkatan Udara memiliki sepuluh unit pesawat Sukhoi buatan pabrik KNAPO
(Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association)," kata Azman.
TNI Angkatan
Udara menerima pesawat Sukhoi secara bertahap dari tahun 2003,
selanjutnya pada tahun 2009 dan 2010, di Lanud Sultan Hasanuddin
Makassar.
Sumber : Merdeka
Besok, Dua Sukhoi SU-MK2 Tiba Di Makassar
Dua
pesawat tempur Sukhoi dari Rusia akan tiba di Pangkalan Udara (Lanud)
Sultan Hasanuddin Makassar, Jumat (22/2) besok. Dua pesawat ini
merupakan bagian dari enam pesawat tempur Sukhoi yang dibeli Kementerian
Pertahanan (Kemenhan) RI tahun ini.
Selanjutnya
empat pesawat sejenis akan tiba secara bertahap di Lanud Sultan
Hasanuddin Makassar. Keberadaan dua pesawat tempur Sukhoi ini akan
meningkatkan kemampuan pertahanan udara melalui kekuatan alat utama
sistem persenjataan (Alutsista). Saat ini pesawat tempur Sukhoi yang
ditempatkan di Lanud Sultan Hasanuddin berjumlah 10 unit.
Kepala
Penerangan Lanud TNI AU Sultan Hasanuddin Mayor Muliadi menjelaskan,
spesifikasi pesawat Sukhoi yang baru ini hampir sama dengan 10
Sukhoisebelumnya,yang sudah berada di Lanud Sultan Hasanuddin sejak 2010
lalu.“Pesawat ini sama dengan pesawat Sukhoi yang sudah ada saat ini.
Tidak ada kelebihan lain,”kata Muliadi. Muliadi menambahkan, dua Sukhoi
yang akan tiba memiliki jenis 6006 dan 6007.
Pesawat
buatan Rusia ini akan digunakan untuk memperkuat 10 Sukhoi yang ada
sebelumnya. Semua pesawat Sukhoi yang ada Lanud Sultan Hasanuddin, kata
Muliadi,bertugas menjaga keamanan negara di seluruh Indonesia. “Mengenai
spesifikasi pesawat dengan yang lainnya, saya belum bisa sebutkan
secara rinci. Apalagi pesawatnya belum datang,” kata Muliadi.
Sumber : MakassarTerkini
Su-30MK2 Batch Ke-3 TNI-AU
Hanya
dalam hitungan hari, Batch ke-3 Flanker pesanan TNI AU segera tiba di
tanah air. Dijadwalkan, sebuah pesawat Su-30MK2 akan tiba di Lanud
Sultan Hasanuddin Makasar pada Jumat 22 Februari mendatang. Sementara,
sebuah lagi pesawat Su-30MK2 dijadwalkan akan tiba tanggal 27 Februari
ke tempat yang sama. Seperti biasa, pesawat Su-30Mk2 itu akan tiba
dengan menumpang pesawat AN-124 dalam kondisi terurai. Selanjutnya,
perakitan akan dilakukan di Makassar.
Selain
pesawat, informasi yang diperoleh ARC juga menyebutkan sejumlah suku
cadang juga akan dikirim pada saat yang bersamaan. Salah satunya adalah
mesin cadangan bagi keluarga Su-27/30. Seperti kita ketahui, kontrak
pengadaan lanjutan yang ke-3 ini meliputi 6 buah Su-30MK2 dan berbagai
jenis suku cadang termasuk mesin. Sementara itu, sisa 4 pesawat lainnya
diperkirakan akan tiba pada bulan mei 2013, jika tidak ada aral
melintang tentunya.
Kontrak
6 buah Su-30Mk2 ini di tandatangangi pada bulan desember 2011 dengan
nilai sebesar US$ 470 juta. Dengan pengadaan ini, nantinya TNI AU akan
mengoperasikan lengkap 1 skadron sejumlah 16 pesawat, yang terdiri dari 5
buah Su-27SK/SKM dan 11 buah Su-30MK/MK2. Paket persenjataan dibeli
dalam kontrak terpisah.
Mengenai
persenjataan berupa rudal udara ke udara maupun udara ke permukaan,
belum ada informasi resmi kapan akan dikirim. Namun yang pasti saat ini
beberapa kru Skadron 11 tengah melakukan pelatihan weapon delivery di
Rusia.
Sumber : ARC
Jupiter Aerobatic Team Akan Tampil Di Malaysia
Tim aerobatik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara bernama "Jupiter Aerobatic Team" akan tampil di "Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition 2013", Malaysia, 26-30 Maret 2013.
"Kegiatan itu
merupakan ajang pameran kedirgantaraan dan produk alat utama sistem
senjata (alutsista) kedirgantaraan," kata Koordinator "Jupiter Aerobatic
Team" (JAT) Letnan Kolonel (Letkol) Pnb Dedy "Leopard" Susanto di
Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia,
"Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition 2013" yang
diselenggarakan di wilayah utara negara Malaysia itu merupakan "event"
tahunan yang cukup besar.
"JAT merupakan
tim aerobatik kebanggaan Indonesia. Tim aerobatik sebuah negara
merupakan salah satu indikator profesionalisme Angkatan Udara (AU),"
kata Komandan Skadron Pendidikan (Skadik) 102 itu.
Ia mengatakan
JAT sudah berkali-kali diundang negara tetangga untuk menampilkan
kemampuannya beraerobatik. Hal itu merupakan kebanggaan TNI AU dan
masyarakat Indonesia.
"Hal itu untuk
memperkenalkan kepada dunia tentang kemampuan tim aerobatik TNI AU untuk
tampil di pentas internasional, sekaligus menunjukkan Bangsa Indonesia
juga memiliki putra-putra yang tidak kalah bersaing dalam kancah
kedirgantaraan dunia," katanya.
Menurut dia,
untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti "event" di Malaysia tersebut
JAT melakukan latihan di Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto Yogyakarta.
"JAT melakukan
atraksi manuver seperti jupiter roll, loop, xclover leap, mirror, tango
to, dan jupiter roll back, hi "G" turn roll slide, dan break off. JAT
masing-masing diawaki Frando Marpaung, HS Romas, Marcelinus, HM Kisha,
dan IB Adi Brata," katanya.
Sumber : Analisa IDB
Langganan:
Postingan (Atom)







