INDONESIA KU

Alat Utama Sistem Senjata semua mantra Tentara Nasional Indonesia Menuju MEF (minimum essential forces)

Selasa, 02 Oktober 2012

Tokoh Marinir pengangkut jenazah pahlawan revolusi meninggal




Tokoh Marinir pengangkut jenazah pahlawan revolusi meninggal

G30S PKI. wordpress.com

Jenazah Mayjen Purn Winanto dimakamkan hari ini di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Winanto adalah komandan Korps Komando Operasi (KKO) yang dulu mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi dari Lubang Buaya, Jakarta Timur.

"Meninggal dunia Minggu (3/9) kemarin karena sakit. Tadi pemakamannya dengan upacara militer," kata Kadispen Marinir Letkol Sumarto kepada merdeka.com, Senin (3/9).

Winanto lahir 6 Maret 1935. Berbagai posisi di TNI AL pernah dijabatnya. Winanto pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988-1990, sebelum pensiun.

Ketika peristiwa 30 September terjadi, Winanto berpangkat kapten. Dia menjabat sebagai Komandan Kompi Intai Para Amphibi (IPAM) KKO (kini Marinir). Saat itu pasukan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) telah menemukan sumur maut berisi jenazah tujuh jenderal di Lubang Buaya, atas bantuan warga.

Namun tidak ada pasukan RPKAD yang mampu turun ke dasar sumur untuk mengambil jenazah. Panglima Kostrad Mayjen Soeharto dan pasukan RPKAD kemudian meminta bantuan Tim Kipam untuk masuk ke dalam sumur yang diduga mengeluarkan gas beracun itu.

Berbekal masker oksigen dan tabungnya, personel Kipam berhasil mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi itu. Ada 12 Anggota Kipam KKO yang dilibatkan.

Sumber: merdeka.com

TNI AD Berharap Anggaran Pembelian Apache Disetujui DPR


TNI AD Berharap Anggaran Pembelian Apache Disetujui DPR



JAKARTA - TNI Angkatan Darat berharap Komisi I DPR RI menyetujui anggaran pembelian delapan unit helikopter tempur Apache dari Amerika Serikat pada APBN 2013.
"Kita sedang bicarakan. Kita berharap bisa diberi izin membeli delapan unit. Maka dari itu, sekarang kita koordinasikan, komunikasikan agar bisa dianggarkan," kata Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/10/2012).
Edhi mengatakan, heli tersebut dibeli dari Amerika Serikat dalam kondisi baru serta bersenjata lengkap.
"Baru, 100 persen gres, lengkap dengan senjatanya. Kalau heli serang tidak ada amunisi dan senjata sama dengan meriam sundut, dong," kata Edhi
Menurut Edhi, Indonesia diharuskan membeli heli tersebut untuk perlindungan angkatan darat. "Indonesia tidak bisa memproduksi Apache, kalau bisa membeli Apache kita beli di Indonesia," ujarnya.
Namun, bila harga Apache tersebut mencapai Rp 60 juta USD, maka TNI AD akan menunda pembelian heli tersebut. Edhi mengatakan, pihaknya mencari alternatif helikopter tempur lain.
"Kalau 60 juta USD terlalu mahal ya. Mungkin kita akan mencari tipe lain, tapi tetap heli serang," imbuhnya.
Edhi mengungkapkan, Indonesia lebih memerlukan heli serang daripada heli angkut. Sebab, TNI AD sudah memiliki 12 unit MI 17 yang dapat mengangkut 34 orang dalam satu pesawat.
"Kita, kalau heli angkut mempunyai MI 17, bisa mengangkut 34 orang, itu imbang dengan Chinook," ujarnya.

Sumber : TRIBUNNEWS.COM

MUI: Pemberontakan PKI Akibat Kelalaian Pemerintah


 
JAKARTA--Gerakan 30 September 1965 merupakan puncak gunung es dari niat jahat PKI (Partai Komunis Indonesia) serta para pendukungnya untuk kembali memaksakan ideologi.
MUI (Majelis Ulama Indonesia) menilai pemberontakan PKI terjadi akibat lalainya pemerintah pusat. Karena sebenarnya tokoh-tokoh intelektual Indonesia saat itu sudah memperingatkan. Antara lain Mr. Muhammad Natsir, Prof. Sumitro, serta sejumlah tokoh militer di Sumatera dan Sulawesi.
"Namun sayangnya, peringatan ini tidak digubris oleh pemerintah pusat, dan bahkan diberangus secara militer dan penangkapan tokoh-tokoh nasional yang anti komunis," ujar KH. Amidhan, ketua MUI dalam diskui 'Mengungkap Pengkhianatan/Pemberontakan G30S-PKI tahun 1965', Aula Gedung MUI, Jl. Proklamasi 51, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2012).
Sejauh ini, pelaku gerakan 30 September memang masih simpang siur. Sejarawan sendiri, lanjut Amidhan, menilai ada enam skenario utama pihak-pihak yang memainkan peran sentral dalam peristiwa 30 September 1965.
Secara berturut-turut adalah aktor tunggal PKI (Partai Komunis Indonesia), Sebagian petinggi perwira Angkatan Darat (AD), CIA (Central Intelligence Agency), Presiden Soekarno, Aktor intelijen Amerika dalam kampanye melawan komunisme yang bertemu dengan intelijen Inggris (kontra ganyang Malaysia), dan para aktor yang saling bersinggungan dalam situasi chaotic (kacau).
MUI sendiri juga mengatakan menolak dengan tegas adanya slogan keadilan untuk anggota atau keluarga KPI.
"(Namun) kita maafkan kesalahan mereka tapi tidak boleh melupakan peristiwa itu karena menjadi pelajaran berharga bagi umat dan bangsa ini," tandasnya.

Sumber : TRIBUNNEWS.COM