Halaman
INDONESIA KU
Alat Utama Sistem Senjata semua mantra Tentara Nasional Indonesia Menuju MEF (minimum essential forces)
Kamis, 08 November 2012
Indonesia Targetkan Bisa Membuat Satelit Mini Pada 2025
JAKARTA-(IDB) : Kepala Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan), Suhermanto, mengatakan melalui simposium
internasional, Indonesia ingin meningkatkan industrialisasi teknologi
antariksa dan aplikasinya. Indonesia berusaha mengejar target pada tahun
2025 bisa membuat satelit mini.
"Kami mengejar target agar pada 2025, kami sudah masuk tahapan bisa membuat satelit mini dengan bobot di bawah 500 kg. Kami sedang merancang seluruh kesiapan infrastrukturnya," kata Suhermanto seusai pembukaan Simposium Asia Pacific Space Cooperation Organization (APSCO), di Yogyakarta, Senin (5/11).
Sebanyak 30 negara yang tergabung dalam APSCO berkumpul di Yogyakarta pada 5-8 November untuk membahasa masa depan program pengembangan satelit komunikasi. Simposium itu merupakan wadah pertukuran informasi dan pengalaman di bidang satelit komunikasi dan aplikasi. Selain itu, melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan potensi kerja sama di antara sesama anggota APSCO dan di kawasan Asia Pasifik.
"Kami mengejar target agar pada 2025, kami sudah masuk tahapan bisa membuat satelit mini dengan bobot di bawah 500 kg. Kami sedang merancang seluruh kesiapan infrastrukturnya," kata Suhermanto seusai pembukaan Simposium Asia Pacific Space Cooperation Organization (APSCO), di Yogyakarta, Senin (5/11).
Sebanyak 30 negara yang tergabung dalam APSCO berkumpul di Yogyakarta pada 5-8 November untuk membahasa masa depan program pengembangan satelit komunikasi. Simposium itu merupakan wadah pertukuran informasi dan pengalaman di bidang satelit komunikasi dan aplikasi. Selain itu, melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan potensi kerja sama di antara sesama anggota APSCO dan di kawasan Asia Pasifik.
Sumber : KoranJakarta
Berita Foto : TNI POLRI Amankan Pagelaran BDF
DENPASAR-(IDB) : Sejumlah anggota TNI Yonif Raider 900 anti teror mengatur barisan
saat gelar pasukan pengamanan Bali Democracy Forum V di Nusa Dua, Bali,
Senin (5/11). Bali Democracy Forum yang digelar 8-9 November 2012 itu
pengamanannya melibatkan ribuan personel dari berbagai unsur, terutama
Paspampres, TNI dan Polri termasuk juga Pecalang atau anggota pengamanan
adat.
Sejumlah anggota Pecalang atau satuan pengaman adat Bali mengatur
barisan saat gelar pasukan pengamanan Bali Democracy Forum V di Nusa
Dua, Bali, Senin (5/11). Bali Democracy Forum yang digelar 8-9 November
2012 itu pengamanannya melibatkan ribuan personel dari berbagai unsur,
terutama Paspampres, TNI dan Polri termasuk juga Pecalang atau anggota
pengamanan adat.
Seorang anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) memeriksa
senjatanya saat gelar pasukan pengamanan Bali Democracy Forum V di Nusa
Dua, Bali, Senin (5/11). Bali Democracy Forum yang digelar 8-9 November
2012 itu pengamanannya melibatkan ribuan personel dari berbagai unsur,
terutama Paspampres, TNI dan Polri termasuk juga Pecalang atau anggota
pengamanan adat.
Sejumlah anggota TNI Yonif Raider 900 anti teror mengatur barisan
saat gelar pasukan pengamanan Bali Democracy Forum V di Nusa Dua, Bali,
Senin (5/11). Bali Democracy Forum yang digelar 8-9 November 2012 itu
pengamanannya melibatkan ribuan personel dari berbagai unsur, terutama
Paspampres, TNI dan Polri termasuk juga Pecalang atau anggota pengamanan
adat.
Sumber : Antara
Indonesia Brazil Tandatangani MoU ToT MLRS Astros
JAKARTA-(IDB) : Di hari kedua penyelenggaraan Indo
Defence 2012, Kamis (8/11) di Stand Pameran Kementerian Pertahanan RI
dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama Transfer of Technology (ToT)
dengan Pemerintah Brasil dan Pemerintah Jerman.
MoU pertama yang ditandatangani yakni ToT dalam rangka pengadaan Multi Launcher Rokcet System atau sistem peluncur roket jarak jauh dengan perusahaan Avibras Industria Aeroespacial Brazil.
Technologi tersebut nantinya akan diberikan kepada pihak LAPAN, PT.
Pindad, PT DI dan Bengpuspal TNI AD. Penandatanganan dilakukan oleh
Kabaranahan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan President
Avibras Industria Aeroespacial Brasil Sami Josef Hassuani. MoU kerjasama
ini merupakan implmentasi didalam proses Transfer Technologi dalam
pembelian dari produk roket.
Sementara itu penandatanganan dengan
pemerintah Jerman khususnya Rheinmetall AG Jerman terdapat dua bentuk,
pertama, dalam hal pengadaan Medium Battle Tank untuk ukuran 30 ton dan
Main Battle Tank (MBT) Leopard ukuran 60 ton serta tank pendukungnya.
Kedua adalah MoU pelaksanaan ToT yang akan diberikan kepada PT. Pindad,
Bengpuspal Ditpalad dan Bengpushub Dithubad.
Penandatanganan MoU yang dilakukan
dengan Jerman tersebut merupakan langkah awal untuk hubungan yang lebih
lama khususnya pengadaan Tank jenis MBT Leopard. Pemerintah Indonesia
menginginkan jumlah MBT Leopard sekitar 2 Batalion Satuan, setingkat
Leopard untuk Kavaleri TNI Angkatan Darat.
Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh
Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan Direktur
Rheinmetall AG Jerman, Herald Westernman.
Sumber :Dikutip IDB / DMC
RI-Jerman Dalami Kerja Sama Pembuatan Tank Kelas Medium
| Marder 1A3 |
Jika proses ini lancar, Indonesia ke depan bakal memproduksi tank medium merujuk pada Marder 1A3 milik Jerman. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto mengatakan, pemerintah sekarang ini dalam proses pembicaraan agar bisa dilakukan kerja sama alih teknologi pembuatan tank medium Marder 1A3 dari Jerman. “Semua pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) ada transfer of technology (alih teknologi/ToT),” tandas Eris di Jakarta kemarin.
Meskipun sekarang ini Indonesia tidak sedang melakukan pembelian tank medium tersebut, proses alih teknologi tetap memungkinkan dilakukan. Hanya, hal itu bergantung proses pembicaraan antarkedua negara. “Ini masih proses. Itu nanti merupakan bagian dari pengadaan MBT Leopard,” katanya. Dia mengaku, pemerintah telah mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah Jerman agar hal tersebut disetujui.“ Kita masih akan bicarakan lagi ke mereka.Saya belum bisa menyampaikan keputusannya,” imbuh Eris.
![]() |
| Tank Medium Marder |
Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, pihaknya belum mengetahui rencana pemerintah tersebut. Namun, secara umum dia menyambut baik jika langkah alih teknologi pembuatan tank medium itu betul-betul bisa direalisasikan. Tubagus mengatakan, pihaknya akan menyetujui bilamana kerja sama yang dilakukan bisa memberikan keuntungan bagi badan usaha milik negara (BUMN) industri pertahanan. Apalagi dengan memproduksi tank medium, kebutuhan alutsista TNI ke depan tidak lagi bergantung pada asing. “Bisa juga untuk dijual. Ada nilai tambah ekonominya,” ujarnya.
Di samping itu, memproduksi tank medium juga akan menguntungkan dari segi strategi pertahanan sebab tank-tank jenis inilah yang sebenarnya sangat cocok untuk karakter geografis Indonesia. ● fefy dwi haryanto
Sumber : (Seputar Indonesia)
LM and PT CMI Teknologi Complete Radar Production Readiness Review
Mahasiswa
pun sepertinya tak mau ketinggalan memamerkan produk militernya di
pagelaran Indo Defence 2012, salah satunya adalah Universitas Gadjah
Mada (UGM) yang membawa pesawat tanpa awak (UAV) dan Roboboat yang
didesain khusus untuk keperluan militer.
Dosen Muda Fakultas MIPA, Bahtiar Alldino kepada itoday, Rabu (9/11) mengatakan, UGM sudah kesekian kalinya ikut Indo Defence.
"Ini bukan pertama kalinya UGM mengikuti ajang Indo Defence," ujarnya.
UGM sendiri membawa UAV Gama 1, Roboboat Safinah One yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti 'kapal', prototipe roket, rompi anti peluru yang terbuat dari jerami dan electronic nouse (e-nouse) mendeteksu bau-bauan, bahkan bisa mendeteksi bahan peledak.
Dari sekian banyak produk yang dibawa, UGM menjagokan Roboboat yang dapat dikembangkan sebagai alat surveillance dan bisa meminimalisir ongkos operasional.
Bahtiar sendiri mengklaim jika Roboboat buatan UGM sudah dilirik berbagai instansi seperti TNI AL, TNI AD, dan pihak swasta.
Hal tersebut menunjukan pengembangan dari UGM khususnya Sumber Daya Manusia (SDM) tidak kalah dengan luar negeri. Hanya saja masih terkendala alat, elektronik yang masih impor.
Bahtiar menambahkan, UGM akan melakukan pengembangan lebih jauh untuk Roboboat.
"Untuk pengembangan lebih jauh, ugm akan memperbesar volume kapal untuk memperbesar kapasitas," pungkasnya.
Selain UGM, masih ada beberapa universitas lainnya seperti Unikom, ITB dan lainnya yang ikut serta dalam pameran senjata dua tahunan ini.
Dosen Muda Fakultas MIPA, Bahtiar Alldino kepada itoday, Rabu (9/11) mengatakan, UGM sudah kesekian kalinya ikut Indo Defence.
"Ini bukan pertama kalinya UGM mengikuti ajang Indo Defence," ujarnya.
UGM sendiri membawa UAV Gama 1, Roboboat Safinah One yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti 'kapal', prototipe roket, rompi anti peluru yang terbuat dari jerami dan electronic nouse (e-nouse) mendeteksu bau-bauan, bahkan bisa mendeteksi bahan peledak.
Dari sekian banyak produk yang dibawa, UGM menjagokan Roboboat yang dapat dikembangkan sebagai alat surveillance dan bisa meminimalisir ongkos operasional.
Bahtiar sendiri mengklaim jika Roboboat buatan UGM sudah dilirik berbagai instansi seperti TNI AL, TNI AD, dan pihak swasta.
Hal tersebut menunjukan pengembangan dari UGM khususnya Sumber Daya Manusia (SDM) tidak kalah dengan luar negeri. Hanya saja masih terkendala alat, elektronik yang masih impor.
Bahtiar menambahkan, UGM akan melakukan pengembangan lebih jauh untuk Roboboat.
"Untuk pengembangan lebih jauh, ugm akan memperbesar volume kapal untuk memperbesar kapasitas," pungkasnya.
Selain UGM, masih ada beberapa universitas lainnya seperti Unikom, ITB dan lainnya yang ikut serta dalam pameran senjata dua tahunan ini.
ASD-(IDB) : Lockheed Martin [NYSE: LMT] and Indonesian technology firm PT CMI
Teknologi (CMI) recently completed a production readiness review that
qualifies CMI to begin in-country manufacturing for the TPS-77 and
FPS-117 long-range surveillance radars.
Lockheed Martin and CMI are jointly pursuing the National Airspace Surveillance – Republic of Indonesia (NASRI) program, with the intent to produce more than 20 new radars to improve airspace surveillance, safety, and management over the Indonesian Archipelago in support of the government’s defense revitalization initiative.
“The success of the production readiness review shows that CMI’s workforce is ready to begin the assembly of radar row receivers, which is a major step in the qualification process,” said James Gribbon, Asia Pacific regional president for Lockheed Martin. “These are key assemblies in the solid-state design and L-band operation of these high-performing radars that are already operating in 25 countries around the world.”
The production readiness review is the latest step in supporting the Indonesian government’s efforts to greatly enhance air sovereignty and surveillance over the country’s more than 17,000 islands, and to expand Indonesia’s industrial capabilities. Data feeds from the new network will also enhance civilian air traffic control, including commercial air traffic management, which is currently handled by radars in nearby Singapore.
Lockheed Martin and CMI are jointly pursuing the National Airspace Surveillance – Republic of Indonesia (NASRI) program, with the intent to produce more than 20 new radars to improve airspace surveillance, safety, and management over the Indonesian Archipelago in support of the government’s defense revitalization initiative.
“The success of the production readiness review shows that CMI’s workforce is ready to begin the assembly of radar row receivers, which is a major step in the qualification process,” said James Gribbon, Asia Pacific regional president for Lockheed Martin. “These are key assemblies in the solid-state design and L-band operation of these high-performing radars that are already operating in 25 countries around the world.”
The production readiness review is the latest step in supporting the Indonesian government’s efforts to greatly enhance air sovereignty and surveillance over the country’s more than 17,000 islands, and to expand Indonesia’s industrial capabilities. Data feeds from the new network will also enhance civilian air traffic control, including commercial air traffic management, which is currently handled by radars in nearby Singapore.
PT CMI Teknologi of Bandung, Indonesia, is a small, privately owned
technology company specializing in microwave design and manufacturing.
The company currently holds contracts for the development and support of
Indonesian military radar systems. Lockheed Martin signed a teaming
agreement with CMI earlier this year and in August Lockheed Martin
issued a subcontract to CMI to begin the qualification process in
building radar row receivers.
Source : IDB / ASD
Pasmar-1 Gelar Kesiapan Material Dan Pasukan Latgab TNI 2012
Dalam amanatnya Danmenkav-1 Mar mengatakan, “sekarang sudah berlaku melaksanakan siaga operasi, kita mendapat suatu kehormatan untuk melaksanakan latihan operasi gabungan di daerah Kalimantan Timur, suatu kepercayaan yang diberikan kepada kita semua, laksanakan dengan baik, laksanakan dengan ikhlas, laksanakan dengan senang”, tegasnya.
Lebih lanjut Kolonel Marinir Sarjito menyampaikan untuk rencana operasi yang sudah saya berikan kepada Komandan Satuan bawah Pasrat agar disampaikan kepada seluruh anak buahnya, baik yang berupa latihan operasi, instruksi khusus, maupun instruksi lain yang bersifat tehnik.
Kegiatan Gelar Kesiapan Pasukan dan Material Pasmar-1 tersebut untuk mengecek kesiapan personel maupun material yang akan mengikuti Latihan Gabungan TNI tahun 2012 di Sangatta, Kalimantan Timur.
Dalam Latihan Gabungan TNI tahun 2012 ini, Pasmar-1 melibatkan 880 prajurit dan material tempur Korps Marinir, yaitu 5 unit Tank Amfibi, 20 unit BTR 50, 4 unit KAPA, 4 unit BVP-2, 2 unit Roket Multi Laras RM 70 Grad, dan 3 pucuk Howitzer 105 Mm.
Langganan:
Postingan (Atom)
















