INDONESIA KU

Alat Utama Sistem Senjata semua mantra Tentara Nasional Indonesia Menuju MEF (minimum essential forces)

Rabu, 31 Oktober 2012

JAT Dan DynamicPegasus Aerobatic Ramaikan DiIndodefence 2012

JAKARTA-(IDB) : Selain  mengadakan pameran alat pertahanan Industri bertaraf internasional dan seminar pertahanan pada tanggal 7-10 November 2012, Panitya Indodefence 2012 Expo & Forum juga akan menghadirkan pertunjukan aerobatic show  TNI-AU. Yaitu  tim  Jupiter Aerobatic Team (JAT) Show dengan pesawat  KT1B dan Dynamic Pegasus Aerobatic yang menggunakan pesawat Helikopter  EC 120 B Colibri.
Menurut Dirut PT Napindo Media Ashatama Herman Wiriadipoera, kedua aktraksi tersebut akan hadir sehari dua kali selama pameran. Dengan beragam gerakan acrobat udara yang tidak hanya menarik, tetapi juga mendebarkan. Diharapkan para pengunjung bisa menikmati suguhan tersebut, selain melihat-lihat peralatan militer yang ada.  
Indodefence  2012 Expo & Forum yang kelima ini, juga menggelar Indo Defence Aerospace & Marine Expo Dan Forum. Bertindak selaku tuan rumah adalah Kementrian Pertahanan Republik Indonesia yang bekerjasama dengan PT Napindo  Media Ashatama. Pameran ini diikuti oleh 50 negara yang terdiri atas 60 perusahaan industri pertahanan dalam dan luar negeri
Sumber : Angkasa

TNI akan hadirkan Leopard 2RI di Pameran Indo Defence V 2012 Expo

http://www.seputar-indonesia.com/publics/imagecache/detail/11/images/news/31%20October%202012/20121031nas1.jpgWakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) bersama Direktur Utama PT Napindo Media Ashatama, Herman Wiriadipura saat jumpa pers terkait pameran internasional industri peralatan pertahanan “Indo Defence 2012 Expo & Forum” di Jakarta, kemarin. Pameran diikuti lima benua dan akan berlangsung mulai 7 hingga 10 November mendatang di JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Jakarta — Setelah gagal diperkenalkan ke publik pada momen hari ulang tahun TNI ke-67 awal Oktober kemarin, tank tempur utama Leopard akan tampil di pameran alat utama sistem senjata (alutsista) Indo Defence V 2012 Expo and Forum, 7–10 November di Jakarta.

Pada kesempatan itu, Kementerian Pertahanan dan Rheinmetall, produsen Leopard, akan menandatangani nota kesepakatan pembelian Leopard. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menuturkan, nota kesepakatan pembelian Leopard itu sebagai implementasi dari kontrak yang selama ini telah disepakati kedua pihak. “Tinggal proses produksi dan pembiayaan dari pengadaan itu,” katanya di Jakarta kemarin Dia menyebut, pemerintah membeli Leopard sebanyak 100 unit.

Jenis Leopard yang didatangkan ke Indonesia adalah Leopard 2A4 dan Leopard Revolution (jenis modifikasi dari Rheinmetall). Selain itu, disepakati pembelian tank kelas menengah Marder sebanyak 50 unit serta tank pendukung sebanyak 7 unit. Seluruh tank itu dibeli dengan harga USD 280 juta yang diambil dari pinjaman dalam negeri. “Kedatangan tank tersebut dilakukan bertahap mulai dari 2012, 2013 hingga semester pertama 2014,” ujarnya. Sjafrie menegaskan, semua tank yang dibeli tersebut dalam kondisi siap pakai. “Tak akan ada lagi proses upgrade,” ujarnya.

Berdasarkan literatur pertahanan, Leopard Revolution memiliki laras lebih pendek sekitar 1,3 meter dari Leopard jenis terbaru 2A6. Namun, laras tersebut dapat dimodifikasi hingga menyerupai Leopard 2A6. Nantinya PT Pindad menjadi ujung tombak pemeliharaan semua Leopard. Kepala Staf Angkatan Da-rat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menuturkan, tank Leopard yang dipesan Indonesia memiliki beberapa spesifikasi khusus yang tidak dimiliki Leopard jenis lain.

“Makanya nant ijangan heran jika namanya Leopard RI,” tuturnya. Dia menyebut, di antara spesifikasi khusus itu adalah adanya fasilitas pendingin ruang personel. “Ini tidak ada di Leopard aslinya yang dipakai di Eropa. Di Indonesia, kita beri AC. Cuaca di Indonesia panas, kalau tidak pakai AC prajurit kita bisa mati dehidrasi,” imbuhnya. [fefy dwi haryanto]

 Dua Unit Tank Leopard Datang Pekan Ini

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiknzPovYKgYXBgq859N_hZUCxCrecjURGhL4chnOlsjOoO9QeUBJa_6zAB_NgZfNHuISzMeKe03BpeeJCjNIgGG-FkyM7Oj7gxnuK1rFHKKYqxNv47GvxLf1-XAx6Hs4nC-4B7n0Ygxck/s1600/rheinmetalllandsystemeg.jpg
MBT Leopard 2 Revolution
(Foto Rheinmettal)
Jakarta - Dua unit tank tempur utama Leopard dipastikan datang pada pekan ini. Tank yang didatangkan dari Jerman itu masing-masing terdiri atas satu unit jenis Leopard 2A4 dan satu unit jenis Leopard 2 Revolution.

"Dua tank ini akan datang pada 3 November ini dan rencananya dipamerkan di Indo Defence Expo pada 7-10 November mendatang," kata Pos Hutabarat, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan, di Kantor Kementerian Pertahanan, Selasa, 30 Oktober 2012.

Kedatangan Leopard, menurut Pos, akan menutup kedatangan alat utama sistem persenjataan yang sudah memasuki penghujung 2012. "Kemarin Tucano sudah datang, sepertinya setelah ini tidak ada lagi senjata yang akan datang," kata dia.

Wakil Menteri Pertahanan Shafrie Syamsudin menyatakan semua tank yang datang sudah bisa dipakai oleh militer Indonesia. "Semuanya baru, tinggal pakai, tidak perlu lagi upgrade, tidak perlu lagi refurbishment," kata dia.

Dua unit tank Leopard ini merupakan penyerahan tahap pertama. Dengan dana sekitar US$ 287 juta, Indonesia membeli 40 unit Leopard 2A4, 63 unit Leopard 2 Revolution, dan 10 unit tank pendukung Leopard 2, 50 unit medium tank Marder 1A3. "Proses politik sudah selesai, administrasi sudah, tinggal mengecek skema produksi dan pembiayaan," ujar Sjafrie.

Konflik Horizontal ( Lampung Selatan )



Ratusan Anak-anak Dievakuasi ke Sekolah Polisi

Ribuan pengungsi konflik Lampung Selatan itu kini ditempatkan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling milik Polda Lampung.

Konflik sosial yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong, menyebabkan ratusan anak-anak menjadi korban. Mereka kehilangan tempat tinggal dan tidak bisa bersekolah.


Tak kurang dari 247 anak menjadi pengungsi dari 1.108 pengungsi yang tercatat dalam konflik yang menyebabkan 14 orang tewas dan sembilan orang terluka itu.


"Empat belas orang itu terdiri dari empat orang yang tewas pada Minggu (28/10), dan sepuluh pada Senin (29/10)," kata Karo Penmas Polri, Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/10).


Menurut Boy, Mabes Polri sangat menyesalkan konflik yang dipicu oleh kecelakaan lalu lintas itu. Ceritanya, pada Sabtu (27/10), terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua remaja putri. Saat itu keduanya ditolong oleh warga Balinuraga.


"Saat itulah muncul isu pelecehan seksual, juga provokasi oleh pihak tertentu. Sebenarnya sudah ada pertemuan awal masyarakat yang bertetangga (Desa Balinuraga dan Way Halong di Way Panji), dan akhirnya pecah keributan," ungkap Boy.


Selain pengungsi yang hingga kini ditempatkan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling milik Polda Lampung, tercatat ada tujuh rumah rusak, 11 roda dua terbakar, satu sekolah dibakar, satu minibus bakar, serta satu jeep dirusak. Hari ini, kondisi dilaporkan sudah kembali kondusif.


"Apakah ada masalah lain sebelumnya (yang membuat masyarakat gampang diprovokasi), kita akan kaji, mengapa masyarakat begitu cepat emosi. Ini kondisi yang disayangkan," imbuh Boy.


Upaya untuk menangkap pelaku, tambah Boy, sebenarnya sudah dilakukan polisi sejak hari pertama. Polisi sudah melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti, tapi upaya ini terhambat karena konflik kembali terjadi pada Senin.


"Sudah ada penyelidikan dan penyidikan. Yang terpenting supaya tidak berkembang hal yang lebih buruk. Seluruh korbannya memang beretnis Bali. Massa yang menyerbu sekitar 10 ribu. Sebenarnya pada Senin sudah disekat, dihalau, tapi ada celah jalan lain seperti pematang, dan akhirnya terjadi bentrok lagi," bebernya.


Saat ini, menurut Boy, ada 2.150 gabungan Polri dan TNI yang ditempatkan di lokasi kejadian untuk mencegah konflik kembali berulang. Itu termasuk anggota Brimob dari Mako Brimob Kelapa Dua, Banten, Jateng, dan Sumsel.


Asops Polri Irjen Badrodin Haiti dan Ka Kor Brimob Irjen Syafei Aksal, juga terjun ke lokasi. Polisi menegaskan akan berupaya memediasi kedua belah pihak untuk berdialog, supaya kasus ini tak berlarut-larut.


Jasad korban tidak utuh


Menurut Kapolres Lampung Selatan (Lamsel) AKBP Tatar Nugroho, saat berada di Waypanji, korban tewas tersebut empat orang di antaranya warga Kecamatan Kalianda akibat bentrokan hari pertama, Minggu (28/10), sedangkan dalam bentrokan pada hari kedua, Senin (29/10), korban tewas sebanyak 10 orang, warga dari Desa Balinuraga.


Tatar merincikan, nama-nama para korban bentrokan dari Kecamatan Kalianda yang tewas, yakni Yahya bin Abdulah, 45, warga Kelurahan Wayurang, Marhadan, 35, warga Gunungterang, dan Alwin, 35, warga Tajimalela.


"Satu lagi, Solihin, 35, warga Kalianda yang tewas saat mendapatkan perawatan medis di RSU Abdul Moeloek Bandarlampung," kata dia pula.


Namun, korban bentrokan hari kedua sebanyak 10 orang dari pihak warga Desa Balinuraga, menurut dia, masih dalam proses identifikasi di rumah sakit karena sebagian tubuh korban tidak utuh lagi akibat bentrokan antarwarga itu.


"Kami telah menyisir perladangan dan perkebunan di lokasi bentrokan itu, dan menemukan 10 korban tewas," kata Tatar.


Selain korban tewas sebanyak 14 orang itu, kata dia lagi, jumlah korban luka-luka mencapai sembilan orang dari Kalianda yang sebagian besar berupa luka terkena tembakan dan luka tusuk saat terjadi bentrokan itu.


Sedangkan kerugian materi akibat bentrokan antarwarga itu, berupa 166 unit rumah warga di Desa Balinuraga dan Sidoreno dibakar massa, 26 unit rumah mengalami rusak berat, 11 unit sepeda motor dibakar, dan dua gedung sekolah ikut dibakar massa.


Satu unit mobil Isuzu Panther milik Dit Shabara Polda Lampung, satu unit mobil Honda CRV, dan Strada juga ikut dirusak massa.


Tak Cukup Sekadar Kesepakatan Damai untuk Tuntaskan Konflik Lampung

Sedikitnya 10 orang tewas dan delapan orang terluka, serta 1.108 orang harus mengungsi, akibat konflik yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong.

Sosiolog dari Universitas Lampung (Unila) Hartoyo mengatakan, peristiwa kekerasan yang terjadi pada Minggu (28/10) itu bukanlah terjadi secara tiba-tiba. Melainkan, menurutnya, itu merupakan akumulasi dari konflik yang terjadi sebelumnya.


"Sedikit ada pemicu, maka terjadilah. Ibarat ada bara api dan daun kering berserakan, itu kan bahaya. Ada angin sebagai pemicunya, maka terjadi kebakaran," kata Hartoyo ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (30/10).


Hartoyo menceritakan, konflik awal terjadi sebelum tahun 2012, ketika kelompok Bali menyerang kelompok Lampung. Kemudian pada Januari 2012, kelompok Lampung pun menyerang kelompok Bali dan terjadi aksi pembakaran rumah.


"Sampai sekarang belum ada tindakan penyelesaian secara hukum. Jadi, ada dendam, kebencian, ketidakpuasan, serta emosi massa yang masih terpendam," jelasnya.


Akar masalah konflik ini, kata Hartoyo, dipicu oleh kecemburuan ekonomi dan sosial, serta ada perbedaan nilai prinsip keagamaan. Menurutnya, secara ekonomi kelompok Bali lebih baik dari kelompok Lampung.


Hartoyo pun mengatakan bahwa potensi konflik seperti ini bisa terjadi di mana saja. Namun menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar potensi itu ditata dengan baik menjadi produktif. Karena kalau tidak dikelola, akan terjadi konflik aktual, dan ketika mengalami eskalasi,  terjadi kekerasan.


Kesepakatan damai antara tokoh adat maupun tokoh masyarakat, menurut Hartoyo, tidaklah cukup untuk meredam gejolak yang terjadi di tingkat masyarakat. Tokoh adat dan tokoh masyarakat termasuk tataran elite, dan perjanjian damai itu sifatnya tidak mengikat.


Jadi, menurutnya pula, solusi penyelesaian konflik itu adalah aparatur negara, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait, melakukan pemulihan kondisi fisik, ekonomi, serta sosial.


"Harus ada proses hukum, dan kondisi psikologis korban harus dikembalikan. Sampai sekarang belum tuntas di lapangan," tegasnya.


Pada kesempatan terpisah, Koalisi Rakyat Lampung, menyerukan para pihak yang berkonflik di provinsi itu segera berdamai dan kembali menjadi persaudaraan.


"Mari kita menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan atau provokasiyang  bisa memicu terjadinya bentrokan kembali," kata Koordinator Koalisi Idhan Januwardhana di Jakarta, Selasa (30/10).


Bagi Koalisi, aparat keamanan juga harus secara sigap dan cermat  mengantisipasi dan meredam konflik dengan melakukan penegakan hukum secara adil, transparan, dan tidak diskriminatif.


Adapun para kepala daerah dan jajarannya di Lampung, beserta jajaran muspida Lampung Selatan sebaiknya segera mengupayakan resolusi konflik.


"Kami harap ada langkah konkret terciptanya perdamaian dan mengerahkan segala program pembangunan secara adil dan merata demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan," ujar Idhan.


Rangkaian Konflik Horizontal di Lampung Selatan

Konflik horizontal di Lampung Selatan berulang dan kian meningkat eskalasinya.

Wajah-wajah mengeras dengan menenteng beragam senjata, seperti parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin tampak bergerak pasti menuju Desa Balinuraga, Sabtu (27/10), sekitar pukul 23.00 WIB. 


Ratusan warga itu merangsek ke Balinuraga bukan tanpa sebab. Beberapa waktu sebelumnya, dua gadis dari Desa Agom yang beretnis Lampung, diganggu oleh pemuda Bali warga Balinuraga. Akibatnya, kedua gadis itu terjatuh dari motornya dan mengalami luka-luka.  


Kasat mata, siapa menyana jika insiden kecil serupa itu kemudian menyulut api persoalan yang demikian besar. Serbuan warga Agom ke Balinuraga menyebabkan sedikitnya tiga warga meregang nyawa. Sedangkan belasan rumah di desa tersebut pun rata dengan tanah akibat dibakar.


Tidak dapat menerima kekalahan dalam "pertempuran" massal itu, pada Senin (29/10), ribuan warga yang disebut-sebut berasal dari gabungan sejumlah etnis di Lampung kembali bergerak menuju Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali. Mereka menerobos blokade aparat yang membentengi desa tersebut.


Mereka datang tak lain untuk membalaskan dendamnya. Pertikaian yang lebih besar pun meledak. Akibatnya, sebanyak sedikitnya 6 warga Balinuraga meninggal dunia dan desa itu porak peranda. Hingga kini, suasana di lokasi tersebut pun masih mencekam kendati sedikitnya 2.150 aparat telah dikerahkan untuk berjaga.


Konflik horizontal yang total hingga Senin (30/10) telah menewaskan 14 warga itu bukan kali pertama terjadi di kabupaten tersebut. Pada awal 2012, konflik juga meledak di Sidomulyo, Lampung Selatan, dan mengakibatkan 48 rumah terbakar dan 33 lainnya rusak.


Pada peristiwa itupun, sebanyak sekitar 700 aparat kepolisian dikerahkan untuk mengantisipasi bentrok susulan. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, yakni pada Agustus 2012, konflik kembali pecah.


Bentrokan kali ini terjadi antarwarga desa yang bertetangga, yakni Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Persoalan yang memicu adalah aksi main hakim sendiri terhadap seorang tersangka pencuri kendaraan bermotor.


Buntut dari insiden tersebut, warga Desa Banyuwangi melakukan penyerangan ke Desa Purwosari yang mengakibatkan sejumlah rumah dirusak dan dibakar. Sebelumnya, konflik senada juga meletup di Kecamatan Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung.


Bentrokan itu dipicu perkelahian antara dua pemuda di sebuah warung nasi, sehingga berakibat masing-masing pihak bertikai membawa kelompok mereka sampai menyulut emosi warga secara lebih meluas.


Akibatnya, kantor Polsek Padangcermin menjadi sasaran amukan massa, karena mereka merasa tidak puas atas penyelesaian kasus yang ditangani kepolisian setempat.


Rangkaian peristiwa kekerasan di Lampung Selatan yang dipicu oleh masalah-masalah sederhana memang kian meningkat eskalasinya. Menilik rangkaian aksi kekerasan yang terjadi di kawasan tersebut, layak kiranya jika muncul sebuah tanda tanya besar.


Yakni, apakah benar memang negara kecolongan mengantisipasi gesekan yang muncul dalam kehidupan masyarakat yang beragam atau memang intervensi dari pihak tertentu berhasil menekan pemerintah setempat agar tidak menuntaskan permasalahan secara proporsional?

Belum Ada Tersangka dalam Kerusuhan Lampung

Polri dan TNI menurunkan aparat tambahan bantuan untuk menjaga keamanan.

Kepolisian Republik Indonesia hingga saat ini belum menetapkan tersangka dalam kasus kerusuhan di Lampung Selatan yang berlangsung sejak Sabtu (27/10) hingga Senin (29/10) dan menewaskan 10 orang.

Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Timur Pradopo, kepada wartawan, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jaktim, hari ini. "Kita tunggu perkembangannya,” ujarnya.


Timur mengatakan, kepolisian masih mengembangkan penyelidikan, termasuk terhadap kelompok yang mengganggu pemudi yang kejadiannya menjadi sumber konflik. “Ini semua berkaitan dengan hal-hal yang bisa dikembangkan mulai dari kelompok yang mengganggu kegiatan pemudi dari masalah sepele ini. Tentunya kondisi itu yang mempengaruhi dan melatarbelakangi semuanya,” ujarnya.


Dia mengakui, konflik horizontal sering kali terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, seluruh elemen pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama bekerja keras dalam pembinaan wilayah.


Aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat pemerintah daerah, menurut Kapolri, haruslah saling bersinergi dalam menjaga keamanan di wilayah. Setiap konflik yang terjadi di daerah, kata Timur, memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing.


”Kepala daerah dan masyarakat bersama-sama kedepankan langkah preemptif dan preventif,” kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.


Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto membela aparat keamanan untuk tidak dipermasalahkan atas terjadinya kerusuhan susulan di Lampung.


”TNI ke mana, polri ke mana, mereka ada di situ. Mereka kan lewat jalan-jalan tikus, banyak cara ke sana,” kata Djoko.

Markas Besar Polri menurunkan aparat tambahan bantuan untuk menjaga keamanan, begitu juga dengan TNI yang menurunkan lima SSK (satuan setingkat kompi, 100 orang) untuk ikut membantu menjaga keamanan. 

Kapolri: Jodie Rooseto Harus Tanggung Jawab

Jodie batal dilantik jadi Kapolda hanya beberapa jam sebelum pelantikan pagi ini.

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo membenarkan pembatalan Kapolda Lampung Brigjen Jodie Rooseto untuk menduduki kursi empuk sebagai Kapolda Jawa Barat menggantikan Irjen Putut Eko Bayuseno adalah bagian dari 'reward and punishment'.

"Semua penilaian pastilah (dilakukan). Itu dinamika lapangan dan risiko (yang bersangkutan) untuk bertanggung jawab di wilayahnya," kata Timur di Gedung Rupatama Mabes Polri, pagi ini.

Saat itu orang nomor satu di korps baju coklat tersebut baru melantik Kapolda Jawa Barat Irjen Putut Bayuseno yang diangkat menjadi Kapolda Metro Jaya menggantikan Irjen Untung S Radjab yang memasuki masa pensiun.

Juga turut dilantik pengganti Putut, Kapolda Sultra Brigjen Tubagus Anis  Angkawijaya. Pengganti Tubagus, Brigjen Ngadino yang sebelumnya menjabat sebagai Kasetukpa Lemdikpol Polri, juga turut dilantik.

Sedangkan, Jodie yang akan mengisi posisi yang ditinggal Ngadino tak tampak. "Dia dia harus selesaikan tugas itu (rusuh Lampung). Dia harus tanggung jawab sebagai Kapolda," tandas Kapolri.

Jodie batal dilantik jadi Kapolda hanya beberapa jam sebelum dirinya dijadwalkan dilantik pagi ini. Pembatalan itu tertuang dalam Kep Kapolri 645/X/2012 tertanggal 30 Oktober 2012 yang salinannya diterima Beritasatu.com tadi malam.

Keputusan Kapolri itu meralat Kep Kapolri 640/X/2012 tertanggal 26 Oktober yang menunjuk Jodie menggantikan Putut. Pembatalan itu terkait konflik  sosial yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong yang menyebabkan 10 orang tewas dan delapan orang terluka.

Posisi Kapolda Lampung diisi oleh Brigjen Heru Winarko yang sebelumnya  menjabat sebagai Pati Polri di Menko Polhukam. Heru ini juga sempat "apes" saat dirinya duduk sebagai Kapolres Jakarta Pusat pada 2008.

Saat itu terjadi insiden Monas yakni saat massa dari berbagai kelompok  Islam termasuk Front Pembela Islam yang bentrok dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Konflik Lampung sangat disesalkan oleh Mabes Polri. Sebab, konflik itu  dipicu soal sederhana yakni kecelakaan lalu lintas. Kini, ada 2.150 gabungan Polri dan TNI yang ditempatkan di lokasi kejadian di Lampung Selatan demi mencegah konflik kembali berulang. Itu termasuk anggota  Brimob dari Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Banten, Jateng, dan Sumsel.
 
Sumber: Garuda Meliter © Berita Satu

Laut China Selatan Dan Laut China Timur Jadi Kawasan Strategis

http://koarmatim.tnial.mil.id/images/stories/30%20laksma%20tni%20asep%20burhanudin%20jabat%20komandan%20lantamal%20ix%202.jpg
Surabaya - Perkembangan lingkungan strategis di kawasan regional, khususnya di Laut China Selatan dan Laut China Timur telah menjadikan wilayah perairan yang dianggap strategis dan kaya akan sumber daya alam sebagai wilayah yang diperebutkan.

Hal tersebut ditegaskan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum pada saat memimpin upacara serah terima jabatan Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Ambon di Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya, Selasa (30/10).

Jabatan Komandan Lantamal IX Ambon diserahterimakan dari Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia S.sos kepada penggantinya Laksamana Pertama TNI Asep Burhanudin. Laksamana Pertama TNI Asep Burhanudin sebelumnya bertugas dilingkungan Markas Besar TNI Angkatan Laut (Mabesal) Jakarta sebagai Kepala Dinas Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kadisdikal),  sedangkan Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia S. sos selanjutnya akan menempati jabatan barunya sebagai Kepala Dinas Hidro Oseanografi (Dishidros) TNI Angkatan Laut di Jakarta.

Dikatakan Pangarmatim, kondisi ini tentu saja menjadi perhatian kita bersama dan menjadi peringatan bagi TNI AL, khususnya jajaran Koarmatim untuk selalu memelihara dan meningkatkan kesiapsiagaan sebagai penegak kedaulatan negara di laut yurisdiksi nasional yang menjadi wilayah kerjanya.

Terkait hal tersebut, lanjut Pangarmatim, Koarmatim sebagai kotama pembinaan dan operasional dituntut untuk mampu membina kemampuan dan kekuatan organisasi di jajarannya, termasuk di dalamnya pembinaan terhadap jajaran Komando pelaksana operasi, Komando pelaksana pembinaan maupun Komando pelaksana dukungan.

“Melalui pembinaan ketiga komando pelaksana tersebut, diharapkan Koarmatim akan dapat melaksanakan tugasnya lebih optimal, yang meliputi pemeliharaan kemampuan unsur-unsur kekuatan Armada, mengembangkan potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan negara di laut, melaksanakan operasi laut sehari-hari dan operasi tempur laut untuk pengendalian laut serta melaksanakan proyeksi kekuatan ke darat lewat laut dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum di laut yurisdiksi nasional,” kata Pangarmatim.
 
Sumber: Kutipan dari Garuda Meliter © Koarmatim

Berita Foto : Galery Armada Jaya 2012 TNI AL

ARC-(IDB) : Latihan puncak TNI AL, dengan sandi Armada Jaya 2012 baru saja usai. 
Dalam latihan ini, TNI AL kembali memperlihatkan kemampuan tempurnya, baik di laut maupun di darat. 



Di laut, peluncuran rudal Yakhont boleh dibilang merupakan puncak peristiwa yang ditunggu-tunggu. Sementara di daratan, gempuran roket dan tank Korps Marinir sungguh menggetarkan.

Sumber : ARC

Koarmabar Siapkan 9 Kapal Perang untuk Latgab 2012

Korvet kelas Parchim KRI Pattimura-371. (Foto: Dispanarmabar)

29 Oktober 2012, Jakarta: Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) direncanakan menyiapkan 9 unsur KRI yang dilibatkan dan tergabung dalam Latihan Gabungan (Latgab) 2012 yang akan melaksanakan manuver lapangan di perairan Laut Sulawesi dan pendaratan Amphibi di pantai Sangatta, Kalimantan Timur.

Sembilan unsur kapal perang RI yang dilibatkan dari Koarmabar meliputi unsur Kapal Perang jenis Perusak Kawal 5 KRI terdiri dari: KRI Patimurra-371, KRI Teuku Umar-385, KRI Wiratno-379, KRI Silas Papare-386, dan KRI Tjiptadi-381, yang sehari-hari di bawah pembinaan Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Barat (Satkor koarmabar).

Selain itu jenis FPB 57 KRI Todak-631 dan KRI Barakuda- 633 yang sehari-hari dibawah pembinaan Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Barat (Satkat Koarmabar) dan 2 KRI jenis angkut Tank tipe Froch KRI Teluk Celukan Bawang-532 dan KRI Teluk Sibolga-536 yang sehari-hari di bawah pembinaan Satuan Kapal Amfibi Komando Armada RI Kawasan Barat (Satfib Koarmabar).

Dari sejumlah Kapal Perang RI jajaran Koarmabar tersebut, dua unsur yang dilibatkan jenis Fast Patrol Boat (FPB) 57 m, merupakan produksi dalam negeri yang dibuat oleh putra-putra Indonesia yaitu KRI Barakuda-633 mulai dioperasikan tahun 1995 dan saat ini dengan komandan Mayor Laut Arya Delano, sedangkan KRI Todak-631 dengan Komandan Mayor Laut (P) Rubiantoro mulai dioperasikan oleh TNI AL pada tahun 2000.

Sumber: Kutipan dari Berita Hankam ( Dispenarmabar)

PT. DI Siapakan Proses Produksi CN-295


BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia saat ini tengah menyiapkan lini produksi untuk pesawat transport menengah CN 295. Pesawat ini sudah memperkuat jajaran armada TNI AU dab merupakan pengembangan dari CN235.
“Pesawat CN235 dirancang dan mulai terbang pada 1980-an, kini tercatat salah satu jenis pesawat transpor populer dan banyak digunakan di seluruh dunia. CN295 adalah pengembangannya,” kata IP Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero). Windu mengatakan karena merupakan pengembangan dari CN235 yang dirancang bangun bersama Indonesia dan Spanyol, maka bagi pihaknya rincian pembuatan CN295 di PTDI bukan sesuatu yang memerlukan pengetahuan asing sama sekali.
Windu menjelaskan CN 295 telah memasuki pasar dunia sejak 1996 oleh Airbus Military (konsorsium Eropa dan CASA terlebur di dalamnya), merupakan pesawat yang mempunyai kapasitas dan jangkauan lebih besar serta memiliki tingkat kehandalan dan dukungan operasional yang sama dengan CN 235.
Pesawat CN295 pun mampu membawa beban muatan hingga 9 ton dengan kecepatan terbang normal hingga 260 knot (480 km/jam). Pesawat ini juga mempunyai bentuk yang kokoh, kualitas terbang serta multifungsi yang menawarkan biaya operasinal rendah, termasuk bahan bakar dan pemeliharaan.
Sebagai pesawat generasi baru dari hasil pengembangan CN 235, pesawat CN 295 dengan segala kemampuan serta sistem yang dimilikinya, sangat cocok untuk tugas-tugas yang diemban TNI AU. Desain dan kontruksi yang dibuat menggabungkan kekuatan, ketahanan dan karakteristik operasi militer dengan tingkat keselamatan dan kehandalan tinggi.
Selain itu, kapabilitas STOL (Short Take Off & Landing) membuat CN 295 mampu lepas landas dan mendarat pada landasan paling buruk sekalipun. Dengan muatan penuh, CN 295 bisa lepas landas dari lapangan terbang sepanjang hanya berkisar 600 meter. “Untuk menjadi CN 295, beberapa struktur pesawat yang ada di tubuh CN 235 diperkuat dan dilakukan beberapa perubahan, di antaranya perangkat pendarat, sayap tengah, mesin dan baling-baling, selain badan pesawat diperpanjang tiga meter,” kata Windu.
Kementerian Pertahanan RI membeli sembilan unit CN 295 hasil kerja sama antara PTDI dan Airbus Military ini. Dua unit telah diserahkan pada 4 Oktober 2012 yang dibuat di Spanyol, sedangkan sisanya tujuh unit akan diproduksi di Bandung dengan rencana penyerahan empat unit pada 2013 dan tiga unit pada 2014.
“Guna mendukung progral plan tersebut, saat ini kami sedang melakukan beberapa persiapan, di antaranya menyiapkan pencetakan badan pesawat (jig fuselage) untuk yang kelebihan panjang badan tiga meter serta pembangunan pusat lini perakitan,” katanya. Dengan menggunakan manufaktur dan lini perakitan terbaru, PTDI dan Airbus Military berharap dapat mengirimkan pesanan pesawatnya ke customer dalam kurun waktu 12 bulan, atau bahkan lebih cepat.
Sumber : Kutipan dari IDB ( Solopos)

Dua Tank Leopard Dipastikan Akan Datang Minggu Ini

JAKARTA-(IDB) : Dua unit tank tempur utama Leopard dipastikan datang pada pekan ini. Tank yang didatangkan dari Jerman itu masing-masing terdiri atas satu unit jenis Leopard 2A4 dan satu unit jenis Leopard 2 Revolution.

"Dua tank ini akan datang pada 3 November ini dan rencananya dipamerkan di Indo Defence Expo pada 7-10 November mendatang," kata Pos Hutabarat, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan, di Kantor Kementerian Pertahanan, Selasa, 30 Oktober 2012.

Kedatangan Leopard, menurut Pos, akan menutup kedatangan alat utama sistem persenjataan yang sudah memasuki penghujung 2012. "Kemarin Tucano sudah datang, sepertinya setelah ini tidak ada lagi senjata yang akan datang," kata dia.

Wakil Menteri Pertahanan Shafrie Syamsudin menyatakan semua tank yang datang sudah bisa dipakai oleh militer Indonesia. "Semuanya baru, tinggal pakai, tidak perlu lagi upgrade, tidak perlu lagi refurbishment," kata dia.
 
Dua unit tank Leopard ini merupakan penyerahan tahap pertama. Dengan dana sekitar US$ 287 juta, Indonesia membeli 40 unit Leopard 2A4, 63 unit Leopard 2 Revolution, dan 10 unit tank pendukung Leopard 2, 50 unit medium tank Marder 1A3. "Proses politik sudah selesai, administrasi sudah, tinggal mengecek skema produksi dan pembiayaan," ujar Sjafrie.




Sumber : Kutipan Indo Defense Blog ( Tempo )