INDONESIA KU

Alat Utama Sistem Senjata semua mantra Tentara Nasional Indonesia Menuju MEF (minimum essential forces)

Kamis, 08 November 2012

Beretta ARX-160 (calon) Senjata Baru Kopaska


Dalam IDAM 2012, boleh dibilang untuk senjata ringan tidak ada hal yang benar-benar baru. Yang paling getol membawa berbagai jenis senapan serbu dan pistol hanyalah Rosoboronexport dari Rusia, Modiar dari Azerbaijan, dan Cekoslovakia. Modelnya juga tak jauh-jauh dari keluarga besar AK, jadi rasanya hambar seperti salah satu kawan kami, Didik Sudharmaji yang dengan berbagai alasan tidak jadi ikut dengan regu ARC untuk mengunjungi IDAM di detik-detik terakhir.

Namun saat berkeliling dalam rangka mencari berbagai brosur dan leaflet untuk bahan koleksi, pandangan mata kami yang memang suka jelalatan memandangi spg-spg, yang dalam pameran kali ini masih banyak didominasi oleh pria dan wanita berkebangsaan asing. Mata kami tertumbuk pada salah satu stan yang dibuka oleh agen. Sepasang senapan berbahan polimer merk Beretta berdiri diatas stand. Yang berwarna hitam menggunakan magasen STANAG milik M16, sementara yang berwarna FDE (Flat Dark Earth) menggunakan magasen M16. Senjata apakah gerangan? ARC termasuk jarang melihatnya.


Beruntung, sales berkebangsaan Italia yang berdiri di dekat stand dengan ramah mencoba menjelaskan, dan menjadi antusias ketika ARC menyebutkan bahwa rombongan datang dari ARC, situs independen penggila hal-hal berbau pertahanan dan alutsista. Belum lagi wajah salesnya yang khas mediteran, membuat sekjend ARC, Dicky, tak lepas-lepas memandangnya.

Penulis sekilas sudah mengetahui, kalau senjata yang satu ini namanya ARX-160, bagian dari rencana Italia untuk mengembangkan prajurit masa depannya dengan nama Soldato Futuro. Senapan serbu tersebut dibuat oleh Beretta, pabrik senjata tertua di tataran Eropa dan mungkin dunia. Senapan berbahan polimer? Penulis awalnya skeptis. Senapan polimer tidak hanya dibuat oleh Beretta saja. Ada Magpul Masada yang dibuat rajanya polimer alutsista, MagPul Company.


Namun saat melihat penjelasan sang sales representative yang bersemangat, kami jadi tertarik juga. Dan tidak percuma. ARX160 bolehlah disebut sebagai senapan inovatif. Desainnya sama sekali tidak menggunakan pin, dan banyak menggunakan latch alias tuas. Untuk membuka, menggeser, dan menukar versi cukup dengan sentuhan pada tuas, tanpa pin sama sekali. Satu pin diperlukan hanya ketika memasang pelontar granat 40mm. Desainnya sangat ergonomik dan betul-betul memikirkan kebutuhan misi dari si operator. Larasnya bisa diganti-ganti dengan mudah. Mau karabin? Ada laras 16”. Mau pertempuran jarak dekat? Dengan satu tombol laras bisa lepas dan diganti dengan laras 12”. Keren! Receivernya juga bisa dipertukarkan, antara 7,62mm dan 5,56mm. Bolt 7,62mm (katanya) bisa masuk ke carrier 5,56mm, walaupun dalam presentasi terjadi technical glitch karena perbedaan versi. Si hitam adalah varian A1, sementara si FDE adalah A2.


Kata yang menjual, ARX-160 sudah dipinang salah satu kesatuan khusus Indonesia, dan sedang dalam pertengahan ujicoba mendalam. Hmmmm.... Vivere Pericoloso alias tahun ngeri-ngeri sedap kalau kata kami….

Sumber:  ARC

PT DI-Airbus Military Perkuat Kerjasama

Model NC-212 milik TNI AD. (Foto: Berita HanKam)

8 November 2012, Jakarta: PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan Airbus Military memperkuat kerjasama strategis pesawat NC212 mulai dari pengembangan, manufaktur, pemasaran hingga pelayanan purna-jual pesawat terbang berkursi 28 penumpang ini.

Peningkatan kerjasama PTDI-Airbus Military itu ditandatangani Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan Ignacio Alonso, wakil Presiden Senior Airbus Military bidang Komersil, Strategi dan Hubungan Industri kawasan Asia, di Jakarta, Kamis. Acara ini mewarnai pameran Indo Defense 2012, di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. Indo Defence 2012 berlangsung 7-10 November 2012 dan diikuti perusahaan-perusahaan industri militer dari sekitar 50 negara, serta sejumlah BUMN termasuk PTDI.

"Kerjasama ini akan memperkuat posisi PTDI sebagai industri pesawat terbang terdepan di wilayah Asia, seperti yang kami rencanakan dalam perjanjian kerjasama strategis dengan Airbus Military," kata Budi Santoso mengomentari peningkatan status kerjasama dengan mitra lama PTDI dari Eropa tersebut.

Budi Santoso menambahkan PTDI dan Airbus Military akan bekerja bersama untuk memproduksi dan memasarkan NC212 upgrade ke seluruh dunia dengan menawarkan pesawat terbang sipil dan militer kelas kecil yang modern dan sangat kompetitif.

Dari titik pandang Airbus Military, menurut Ignacio Alonso, peningkatan status kerjasamanya dengan PTDI bukti berikutnya tentang kepercayaan pihaknya pada masa depan NC212 yang kompetitif ini dan menjanjikan di banyak negara di dunia.

"Dengan dukungan yang berkesinambungan Pemerintah Indonesia, PTDI dan Airbus Military akan mampu meraih banyak hal bersama," kata Senior VP Komersil, Strategi dan Hubungan Industri Airbus Military tersebut, yang menambahkan pembuatan NC212 akan dipusatkan di Bandung.

Pesawat tersebut selanjutnya akan ditawarkan kepada pelanggan sipil serta militer. NC212 upgrade ini akan dilengkapi dengan avionik digital dan sistem autopilot terkini. Interior untuk versi sipil terbaru yang mampu membawa sampai dengan 28 penumpang dibandingkan dengan versi semula yang hanya 25 penumpang. Versi terbaru NC212 itu akan mendorong efisiensi biaya naik secara tajam. Ini akan menempatkan NC212 ini pada posisi tawar yang sangat kompetitif di segmen pasar pesawat kecil. Pesawat ini akan disertifikasi oleh EASA dan FAA sesuai dengan FAR 25.

Kesepakatan kerjasama dalam pengembangan, manufacturing, komersialisasi dan dukungan pelanggan ini untuk memenangkan kompetisi memenuhi kebutuhan pasar di segmen pesawat kecil, baik untuk sipil, militer dan kargo, pada dekade berikut.

Potensi pasar pada segmen ini diperkirakan akan mencapai sekitar 400-450 pesawat dalam sepuluh tahun kedepan. Final Assembly Line sedang disiapkan di fasilitas PTDI di Bandung. Kesepakatan ini selangkah lebih maju dalam tahapan hubungan kerjasama antara dua mitra lama.

Sejak Oktober 2011, dua perusahaan ini telah menempatkan tim-tim kerja bersama di fasilitas PTDI di Bandung, di mana personil Airbus Military bekerja di dalam lokasi kerja PTDI. Tim-tim ini bekerja dalam lingkup industrial dan komersial yang fokus pada penciptaan bisnis baru bagi kedua perusahaan.

Tujuan sinergi kekuatan kedua pihak tersebut dalam memajukan kemampuan produksi, proses rekayasa, dan teknologi informasi, dan transfer pengetahuan dalam rangka mendorong PTDI menjadi industri pesawat terbang kecil dan sedang terkemuka di Asia.

Boyke Mukiyat, Direktur Utama Perusahaan Pengelola Asset (PPA) mengatakan sangat gembira dan bangga bahwa PTDI telah melangkah lebih jauh lagi dalam proses revitalisasi dan memperkuat posisi. Meningkatnya sukses PTDI akan mendapatkan lebih banyak pekerjaan, dan dengan kesepakatan kerjasama NC212 upgrade.

"PTDI sedang bergerak maju dengan pasti kearah suksesnya mencapai tidak hanya revitalisasi tetapi juga peningkatan target-targetnya. PPA sepenuhnya mendukung rencana kerja PTDI dan akan terus membantu agar PTDI dapat menjadi industri pesawat terbang kecil terdepan di wilayah Asia," kata Mukiyat.

Produk utama PTDI adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Pabrik perakitan PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengan type certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli maritim dan pengawasan.

Selain itu PTDI memproduksi di bawah lisensi pesawat terbang dan helikopter untuk 49 operator sipil dan militer. PTDI memanufaktur dan memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen, tools dan fixtures untuk pesawat Airbus A320/321/330/340/350/380, untuk Eurocopter EC225 dan EC725, untuk pesawat Airbus Military CN235/C212-400/C295.

Sumber: Investor Daily

Hasil Negoisasi Yang Alot Leopard RI

Sebentar Lagi, Indonesia Kebanjiran Tank Leopard

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitpYmiotd8WGzjAjpsL2d7InV2rzh1jBrGNnYJQ_CgVy57z7oXngMh37FGUQ4scm8vpYSMimRMiz0YPMk2V4w_oQZXJc7UW4WNdeAVK8Dvy4ogq7eZvWilsdIu3L_wo6q7PzqdBRMn_K4/s1600/1.jpg
MBT Leopard 2 Revolution
(Foto MIK)
Jakarta - Indonesia resmi menjalin kerja sama dengan Jerman terkait dengan pengadaan tank berat Leopard dan tank sedang Marder. Kerja sama itu meliputi transfer teknologi dan pengetahuan untuk merawat dan meng-upgrade dua jenis tank tersebut.

"Nantinya dapat dilakukan PT Pindad dan unit lainnya," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, usai menyaksikan penandatanganan perjanjian tersebut di tengah Pameran Indodefence, di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 8 November 2012.

PT Pindad, Bengkel Pusat TNI AD, dan Bengkel Perhubungan TNI AD akan menjadi penerima transfer teknologi dari perusahaan Rheinmetall, Jerman. "Ini menjadi awal yang baik bagi kebangkitan industri pertahanan nasional kita," ujar Purnomo.

Kementerian Pertahanan juga berharap administrasi pembelian Leopard dapat segera rampung. "Kami berharap negosiasi bisa memasuki tahap final," ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Ediwan Wibowo.

Negosiasi dengan Rheinmetall, menurut Ediwan, cukup alot. "Terutama soal jumlah yang masih terus kami bahas," kata dia. Kementerian Pertahanan sendiri berharap Leopard pesanan Indonesia itu dapat rampung pada 2014.

Ada tiga poin kesepakatan antara Kementerian Pertahanan dan Rheinmetall. Pertama, meliputi transfer pengetahuan terhadap perusahaan negara atau swasta lokal yang ditunjuk. "Berupa workshop, agar industri pertahanan lokal bisa memperbaiki kerusakan Leopard hingga taraf paling berat," kata Ediwan.
Kedua, menyangkut komponen lokal. "Rheinmetall akan melihat dengan material yang ada di Indonesia, komponen apa saja yang dapat dibuat," ujarnya. Namun, komponen tersebut tidak termasuk komponen besar. "Hanya komponen ringan."Ada pula masalah pengadaan Leopard yang masih dibahas. Rencananya, Indonesia membeli Leopard Ri dan A24 beserta tank sedang Marder seberat 33 ton. Leopard Ri dibanderol US$ 1,7 juta atau sekitar Rp 16,4 miliar per unit. Indonesia dikabarkan memesan 61 tank Leopard RI dan 42 Leopard 2A4 seharga US$ 700 ribu, atau Rp 6,7 miliar per unit.

Sebelumnya, pembelian Leopard sempat menuai kecaman dari Dewan Perwakilan Rakyat. Tank berat ini dinilai tidak cocok dengan kondisi geografis Indonesia. Rencana pembelian Leopard ke Belanda pun gagal akibat penolakan dari parlemen setempat. Tim negosiasi kemudian mengalihkan pembelian ke Jerman.(Tempo)


Negosiasi Jumlah MBT Leopard Belum Final

(Foto Jojocircus)
Kementerian Pertahanan (Kemhan) masih belum menentukan jumlah pasti Main Battle Tank (MBT) Leopard yang dibeli dari perusahaan Jerman Rheinmetall.

Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen Ediwan Prabowo mengatakan kepastian jumlah unit MBT Leopard atau Leopard Revolution masih dinegosiasikan.

"Untuk jumlah masih dalam tahap negosiasi, jadi kami belum bisa memberikan angka pasti," kata Ediwan usai menandatangani nota kesepahaman dengan Direktur Rheinmetall Harald Westernman di Jakarta, Kamis.

Namun, Kemhan berharap jumlah unit tank Leopard Revolution dapat sesuai dengan anggaran dan kebutuhan TNI AD, yaitu sebanyak dua batalyon.

Keberadaan tank tempur MBT Leopard, atau biasa disebut Leopard Revolution, memang dinanti-nantikan di Indonesia karena kemampuannya yang memiliki efek penangkal untuk pasukan tempur.

Pembelian Leopard 2 oleh Pemerintah Indonesia sempat menimbulkan pro dan kontra karena Pemerintah Federal Jerman dikabarkan belum memberikan ijin ekspor untuk kendaraan tempur baja tersebut.

Selain penandatanganan nota kesepahaman pengadaan tank Leopard Revolution juga ditandatangani nota serupa terkait alih teknologi (transfer of technology).

Rencananya, alih teknologi terkait pengadaan tank Leopard Revolution tersebut akan diberikan kepada PT Pindad, Bengkel Pusat Peralatan (Bengpuspal) Direktorat Peralatan Angkatan Darat (Ditpalad), serta Bengkel Pusat Perhubungan (Bengpushub) Direktorat Perhubungan Angkatan Darat (Dithubd).

Edwin prabowo mengatakan, setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut kedatangan tank Leopard 2 dapat segera terealisasikan.

Sementara itu, satu tank Leopard Revolution dan tank ringan Marder 1A3 sudah dipamerkan dalam pameran internasional Indo Defence.(Antara)


Upgrade konten lokal Tank Leopard

Foto Binbin1979)
Kedatangan Tank Leopard RI ini tentu menambah kekuatan militer TNI, khususnya Angkatan Darat. Karenanya, Pemerintah Indonesia, melalui PT Pindad Persero akan segera mengupgradenya dengan konten-konten lokal.

Hal itu dipastikan setelah Kementerian Pertahanan RI menandatangani nota kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan Jerman yang memproduksi Tank Leopard Revolution ini, yakni Rheinmetall Landsysteme. Kemenhan dalam penandatanganan ini diwakilkan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan, Mayor Jenderal Ediwan Prabowo, sedangkan Rheinmetall diwakili oleh Managing Director, Harald Westermann.

Penandatanganan MoU dilakukan di sela-sela pameran Indo Defence hari kedua ini berlangsung. "Ini sebagai komitmen kita untuk melakukan alih teknologi bagi setiap alutsista yang dibeli dari luar negeri," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro usai menyaksikan penandatanganan kesepakatan bersama.

MoU antara Kemenhan dan Rheinmetall ini untuk menyepakati pembelian Tank Leopard, Tank Marder 1A3, dan sejumlah tank pendukung lainnya. Khusus Tank Leopard, pembelian tank kelas berat itu dikarenakan Indonesia masih berkutat pada Light Tank atau tank kelas ringan.

"Selama ini kita belum punya tank berat dan tank medium. Kita baru punya tank ringan," kata Purnomo.

Kesepakatan itu juga tak hanya soal pembelian, tetapi juga kerja sama untuk pemeliharaan Tank Leopard. Pemeliharaan itu pun dipercayakan ke PT Pindad, Bengkel Pusat TNI AD, dan Balitbang TNI AD.

Menurut Ediwan Prabowo, dengan adanya kesepakatan ini, PT Pindad akan mendapatkan workshop tentang pemeliharaan dan perbaikan Tank Leopard. Tak hanya itu, Rheinmetall juga memberi kesempatan PT Pindad untuk mengupgrade Tank Leopard dengan konten-konten lokal. Di antaranya plat baja, sepatu atau rantai roda Tank.

"Pihak Rheinmetall juga akan mempercayakan PT Pindad untuk improvisasi menggunakan konten lokal. Tentu sifatnya masih yang ringan-ringan. Ke depan semoga PT Pindad juga bisa membuat laras meriam Leopard," ujar dia.

Ediwan berharap, kontrak kerja sama dengan Rheinmetall bisa diselesaikan pada November 2012 ini. Hal itu bertujuan agar pada 2014 mendatang, semua Tank Leopard yang dipesan sudah ada di Indonesia.(Viva)


Sumber: Tempo, Antara, Vivanews

Para Kandidat Helikopter Serang Untuk TNI AD


JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan membeli salah satu dari tiga jenis helikopter serang untuk memperkuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Ketiga jenis helikopter itu yakni Apache, Super Cobra, atau Black Hawk.

Faktor yang menjadi pertimbangan utama untuk memilih yakni harga. Hal itu terungkap dalam rapat antara pemerintah dan Komisi I DPR saat membahas anggaran 2013 di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (1/10/2012) malam.

Hadir dalam rapat itu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparmo, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat, dan para petinggi TNI lainnya.

Awalnya, Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq meminta pemerintah menjelaskan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton bahwa Indonesia akan membeli delapan helikopter Apache dari AS. Hal itu diungkap Hillary setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington. 
Masalahnya, Komisi I DPR tak tahu soal rencana pembelian Apache lantaran tidak pernah ada penyampaian dari pemerintah, baik dalam pertemuan formal maupun informal. Komisi I baru tahu setelah muncul dalam pemberitaan. 
Purnomo mengatakan, pihaknya memang ingin membeli helikopter serang. Alasannya, negara-negara tetangga sudah memperkuat alutsista dengan membeli helikopter Apache. Hanya saja, menurut dia, rencana itu masih terlalu dini untuk disampaikan kepada DPR lantaran masih mempertimbangkan banyak hal, khususnya harga. 
"Kami ingin bandingkan dengan beberapa jenis helikopter lain yang mungkin walaupun kemampuan dan kualitasnya lebih rendah dari Apache, tapi kita bisa dapatkan lebih (banyak)," kata Purnomo. 
Edhie menambahkan, Apache menjadi prioritas pertama pihaknya. Menurut dia, sudah ada pembicaraan dengan pihak AS mengenai harga. Namun, harga yang ditawarkan berubah-ubah dari sebesar Rp 25 juta dollar AS per unit, lalu Rp 30 juta dollar AS per unit. 
Belakangan, tambah Edhie, harga Apache kembali naik. Dia tak menyebut berapa harga terakhir. Akhirnya, pihaknya mencari helikoper pembanding, yakni Super Kobra. Informasi yang diterima, kata dia, harga yang ditawarkan yakni 15 juta dollar AS per unit. 
Edhie mengatakan, helikopter Black Hawk menjadi pilihan terakhir. Dia tak menyebut berapa harga per unit helikopter yang dipakai dalam film Black Hawk Down itu. "Black Hawk ini dulu helikopter serbu atau angkut pasukan. Dikembangkan menjadi helikopter serang," kata dia. 
Mengapa tiga helikopter itu menjadi pilihan? Menurut Edhie, pihaknya memilih memesan dari negara lain lantaran perusahaan lokal tak lagi memproduksi helikopter serang. "Kita harus beli helikopter serang untuk perlindungan serangan darat. Andai kita melakukan gerakan pertempuran di darat, helikopter ini yang melindungi tank-tank dan pasukan kita di darat," kata Edhie. 
Sumber : Kompas

Kenapa TNI AD Tunda Pembelian Helikopter Apache


JAKARTA-(IDB) : Meski pihak pemerintah dan Senat Amerika Serikat (AS) telah memberi lampu hijau bagi Indonesia membeli helikopter serbu Apache, TNI AD memutuskan belum dapat merealisasikan pembelian Apache pada tahun depan. Sebab, terganjal persoalan anggaran yang belum cukup.

"Dalam masa persidangan kemarin, hal ini sudah dibicarakan di Komisi I. TNI AD meminta pembelian Apache dari AS agar ditunda dulu sampai dengan anggarannya cukup. Jadi, kemungkinan pembicaraan pembelian Apache akan kembali dibuka paling cepat untuk pengadaan di 2014," kata anggota Komisi I DPR Hayono Isman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/11).

Tambah Hayono, Komisi I menyetujui adanya permintaan penundaan pembelian Apache dari AS tersebut mengingat yang berkepentingan dalam hal ini user-nya sendiri (TNI AD).

Hayono mengatakan, ihwal penundaan pembelian Apache ini, karena pihak TNI AD meminta agar anggaran pengadaan heli serbu itu di luar anggaran reguler pada pagu anggaran di APBN 2013. "Mereka (TNI AD) mengakui harga Apache meski second tetap mahal. Karenanya jika Apache itu dibeli dengan menggunakan anggaran reguler TNI AD di APBN, dikhawatirkan akan mengganggu program yang sudah ada. Karenaya mereka meminta alokasi anggarannya lewat on top. Karena anggarannya belum terlihat jelas, akhirnya TNI AD memutuskan untuk menunda saja pembelian Apache di 2013 tersebut," ujar politisi Partai Demokrat ini.

Hayono menjelaskan, Senat AS telah memberi dukungan bagi rencana Pemerintah Indonesia membeli heli serbu Apache tersebut. Hal ini sebagaimana disampaikan Senator AS Richard G Lugar yang melakukan kunjungan ke Komisi I DPR pada Rabu (31/10).

Hayono mengatakan, dari kunjungan Richard G Lugar kemarin itu terungkap, sudah ada congressional notice kepada Pemerintah AS yang berisi pemberitahuan tidak ada penolakan terhadap penjualan heli Apache ke Indonesia.

Seperti diketahui, AS berencana menjual sejumlah heli Apache ke RI. Rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa saat bertemu di Washington DC pada 20 September silam.

Apache yang ditawarkan AS ini adalah seri AH-64D Longbow. Jenis yang diproduksi Boeing ini merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Tipe ini menggantikan helikopter AH-1 Cobra. Angkatan Darat AS sendiri sudah menggunakan Apache sejak Maret 1997. Dibanding seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.
Sumber : Jurnamen

Melirik Kembali Modernisasi alutsista yang terus dilakukan TNI


chinook 1 Menanti Helikopter CH 47 Chinook IndonesiaKita mencoba menyimak kembali rencana Modernisasi alutsista terus dilakukan TNI dengan pengadaan: Main Battle Tank Leoprad 2A6, Meriam 155mm Caesar, Peluncur Roket Multi Laras, Helikopter Serbu, 24 pesawat tempur F-16 ex USAF, Penambahan 6 Sukhoi MK 30, Satu Skuadron (16) Pesawat Super Tucano, UAV Heron TP, Light Frigate Sigma 10514, Light Frigate Nakhoda Ragam Class, Kapal Selam Chanbogo, Rudal C 705 dan C 802, Tank BMP 3, Panser Anoa, Helikopter SeaSprite, Pesawat Angkut C-295 dan berbagai alutsista lainnya.

Pasukan TNI juga mulai menyebar satuan satuannya, seperti penempatan: 2 Batalyon Kostrad di Perbatasan Kalimantan, Pasukan Marinir di pulau-pulau terluar, pembangunan Batalyon Marinir di Karimun, Kepulauan Riau dan Lampung. Pembangunan Pangkalan Marinir di Pulau Nipah dan Natuna, serta rencana pembentukan Brigade Marinir di Papua dan Pasmar II di Belawan, Sumatera Utara.

TNI pun membangun tiga bandara di Kalimantan dekat perbatasan Malaysia, agar pasukan bisa digerakkan dengan cepat ke garis depan jika terjadi konflik.

kri3 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
LPD KRI Makassar
Untuk urusan angkutan laut, telah ada 4 multi-role LPD Makassar Class berbobot 11,400 ton dan 19 Landing Ship. 

Sementara TNI AU telah melakukan perbaikan menyeluruh (overhaul) pesawat angkut C-130 Hercules di AS serta mendapatkan setengah hibah 5 Hercules dari Australia. 

Hibah 5 Hercules ini tampaknya berjalan lancar, apalagi Presiden SBY bertolak ke Australia tanggal 3 Juli 2012. Namun bagaimana dengan deploy pasukan untuk pangkalan militer di pulau pulau terluar yang tidak memiliki landasan pesawat terbang ?. 

China mulai membangun landasan pacu pesawat fix wing di pulau terluar dengan cara reklamasi. Namun Indonesia tentu belum mampu, karena anggaran yang terbatas. Untuk Komisi Perhanan DPR, mulai melirik helikopter CH-47 Chinook Amerika Serikat, untuk melengkapi armada angkut pasukan TNI.

chinook 2 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Munculnya ide pembelian helikopter Chinook, diawali saat kunjungan kerja Komisi I DPR ke AS dipimpin ketuanya Mahfudz Siddiq. Rombongan ini bertemu produsen Helikopter Chinook dan Boeing memberikan lampu hijau untuk menjualnya ke Indonesia.

AIR CH 47 Dutch Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia“Kementerian Pertahanan diharapkan mempertimbangkan, bahkan mengkaji pengadaan alat angkut bagi TNI mengingat pesawat yang ada saat ini seperti Hercules sudah tua sehingga perlu peremajaan bahkan bila perlu pembelian baru. Komisi I tertarik dan mengusulkan pesawat angkut jenis Chinook,” ujar anggota Komisi I DPR Muhammad Najib.

CH-47 Chinook memiliki keunggulan kapasitas angkut yang besar, baik untuk personil dan logistik. Heli ini juga mampu mengangkut (sling): pesawat tempur, kapal tempur, kendaraan tempur hingga tank seberat puluhan ton.

Helikopter angkut CH-47 Chinook sangat dibutuhkan negara archipelago seperti Indonesia yang memiliki 13000 pulau. Helikopter itu untuk mobilisasi pasukan ke pangkalan-pangkalan militer di pulau terluar seperti: di Pulau Nipah, Natuna, Kepulauan Riau, Papua, Sebatik dan sebagainya.


AIR CH 47 Dutch Carrying F 16 lg Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
CH47 tank Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Lebih jauh lagi helikopter Chinook bisa digunakan untuk penanganan pasca-bencana, karena Indonesia termasuk wilayah “Ring of Fire”, titik pertemuan antar lempeng bumi.
Mungkin kita masih ingat betapa powerfullnya helikopter CH-47 Chinook Singapura, saat mendistribusikan logistik pasca Tsunami Aceh. Chinook juga dengan cepat mampu mengevakuasi penduduk dalam jumlah cukup besar. Kinerja helikopter Chinook itu, kontras dengan kemampuan Helikopter Bell 412 RI yang diterjunkan pasca Tsunami Aceh 2004.

Di Asia Tenggara, selain Singapura, Thailand juga telah menggunakan CH-47 Chinook. Sementara di dunia, sangat banyak pengguna Chinok, termasuk: Australia, Belanda, Italia, Canada, Spanyol dan Inggris.

Helikopter buatan Boeing ini diawaki oleh 3 kru (pilot, copilot dan flight engineer). Heli ini mampu mengangkut pasukan hingga 55 personil dan kargo di dalam heli 12 ton. Chinook memiliki panjang 30 meter dengan tinggi 5,7 meter. Chinook terbang dengan kecepatan maksimal 315 km/jam atau kecepatan jelajah 240 km/jam untuk jarak 741 km. Helikopter ini juga bisa dilengkapi 3 senjata mesin M240/FN MAG.

Chinook yang Combat Proven, yang telah malang melintang di perang; Vietnam, Iran-irak, Malvinas, Desert Shield dan Desert Storm di Irak, serta Perang Afghanistan. Bahkan Jepang menggunakan helikopter ini untuk mendinginkan Reaktor Nuklir Fukusima yang rusak akibat gempa 9.0 SR tahun 2011 lalu.


AIR CH 47D USAR Afghanistan lg Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Chinook di Afghanistan
Inggris yang telah memiliki 46 helikopter CH-47 Chinook, terus melakukan pembelian. Bulan Agustus 2011, Inggris kembali membeli 14 helikopter CH-47 Chinook dari Boeing AS dengan nilai pembelian 1 Miliar Poundsterling atau Rp 14 triliun. 
Dengan demikian Inggris menjadi negara terbesar yang memiliki armada heli Chinook di Eropa, sebanyak 60 unit. 
Heli Chinook pesanan terbaru Inggris akan mulai diterima RAF pada 2013 untuk uji terbang. Paket pembelian dengan Boeing ini meliputi biaya pengembangan, produksi, dan dukungan teknis untuk lima tahun pertama.

lion air obama1 300x211 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Obama Saksi Pembelian Boeng Lion Air
Pabrik pembuat CH-47 Chinook, Boeing, menjadi sangat ramah terhadap Indonesia setelah Rusdi Kirana melalui maskapai penerbangan Lion Air membeli 230 pesawat Boeing senilai Rp 195 triliun, yang dikirim bertahap 2017-2025. Saking besarnya transaksi Indonesia dengan Boeing, pembelian 230 pesawat Boeing itu disaksikan langsung Presiden AS Barrack Obama.
Kehadiran helikopter Chinook di Indonesia akan meningkatkan wibawa TNI. Dengan kehadiran Chinook, Insinyur-Insinyur PT DI bisa berkenalan dengan helikopter tandem rotor. Masak, mau mengutak-atik heli satu rotor melulu. Sudah waktunya naik kelas mempelajari tandem rotor heavy-lift helicopter. Good Luck. 


Sumber : JKGR

Pesawat Nirawak CR10 Karya Dislitbangad

Pesawat nirawak CR10.(Foto: Berita HanKam)

8 November 2012, Jakarta: Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD (Dislitbangad) mengembangkan pesawat nirawak sayap tetap CR10.

CR10 digolongkan kelas jarak dekat dengan jangkauan terbang 25 km dan lama terbang 3-4 jam. Pesawat mempunyai bobot maksimal 35 kg, panjang keseluruhan 2,6 meter dengan bentang sayap 3,2 meter.

Pesawat digerakan oleh mesin 80 cc 2 tak yang mampu mencapai kecepatan maksimal 140 Km/jam dan kecepatan jelajah 120 km/jam.

CR10 mampu melakukan misi pengintaian taktis, pengintaian strategis, deteksi dan identifikasi musuh, akuisisi lokasi dan posisi target dengan akurasi tinggi serta perimeter patroli.

Kamera pengintai diletakkan di bagian bawah pesawat. (Foto: Berita HanKam)

Berbagai satuan TNI AD dapat mengoperasikan CR10 untuk misi-misi khusus. Satuan infanteri untuk misi pengintaian dan pemantauan serta pencarian target.

Satuan kavaleri dan artileri medan untuk misi pencarian target, pengintaian rute, melakukan analisa hasil penembakan serta mendukung latihan penembakan dalam mengecek keakurasian penembakan.

Satuan arhanud untuk melakukan pengecekan area penyebaran bagi satuan tembak arhanud. Satuan zeni dan perhubungan untuk pemetaan udara, pemantauan wilayah, pemantauan konvoi dan penyiaran komunikasi.

Sumber: Berita HanKam

MBT Leopard Revolution Alutsista Terbaru Indonesia

(Foto: Berita HanKam)

8 November 2012, Jakarta: TNI AD berencana melengkapi dua batalyon kavaleri dengan MBT Leopard, Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8/Tank Kostrad bermarkas di Desa Beji, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan dan Yonkav 1/Badak Ceta Cakti Kostrad di Cijantung, Jakarta.

(Foto: Berita HanKam)

Spesifikasi Teknis
Mesin: MTU MB 873, 12 diesel turbo intercooler
Tenaga: 1500 hp
Transmisi: otomatis 4 maju + 2 mundur
PWR: 24,2 hp/ton
Kapasitas: 1.160 liter

(Foto: Berita HanKam)

Dimensi
Panjang + kanon: 9,670 m
Lebar/tinggi: 3,70 m/ 3,00 m
Berat tempur: 62 ton
Tekanan jejak: 0,98 kg/cm2
Bebas dasar: 540 mm

Rantai tank dilapisi bantalan karet. (Foto: Berita HanKam)

Mobilitas
Kecepatan maksimum: 70 km/jam
Rintangan tegak: 1,1 m
Rintangan miring: 30%
Tanjakan: 60%
Lintas parit: 3 m
Mengarung: 0,8 m
Daya jelajah: 450 km

(Foto: Berita HanKam)

Persenjataan
Kubah: Rheinmetall 120 mm SBG L44
Jarak capai: 7,62 mm MG
PSU: 7,62 mm MG
Awak ranpur: 4 orang

Sumber: Berita HanKam

APC Amphibi Kreasi Anak Negeri


APC Amphibi. (Foto: Berita HanKam)

8 November 2012, Jakarta: Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL (Dislitbang TNI AL) dan Korps Marinir mengandeng perusahaan lokal PT. Wirajaya Bahari berkedudukan di Surabaya mengembangkan kendaraan tempur angkut pasukan berkemampuan amphibi dan Institut Sepuluh November (ITS) sebagai konsultan.

Ranpur yang belum diberi nama ini disebut APC Amphibi, dibangun di Denhar Lanmar Surabaya. Hasil produksi telah diuji coba dan memenuhi standard an keselamatan TNI AL serta ergonomis sebagai ranpur amphibi yang memenuhi standar operasional TNI AL.

APC Amphibi telah melewati serangkaian uji coba dengan hasil memuaskan. Pengujian maneuver di darat di Karang Pilang, Surabaya dan test kekedapan di kolam Denhar Lanmar. Embarkasi dan debarkasi di laut melalui rampa kapal dari Landing Ship Tank (LST) KRI Teluk Banten-516 di Koarmatim. Pengujian maneuver darat di Karangtekok, Asembagus. Serta lolos pengujian tahan peluru body APC Amphibi dengan senjata peluru kaliber 5,56 mm dan 7,62 pada jarak 50 m dan 100 m.

Kursi untuk operator senapan mesin. (Foto: Berita HanKam)

Ruang pasukan dilengkapi monitor untuk melihat keadaan di luar APC. (Foto: Berita HanKam)

APC Amphibi dapat dipersenjatai tiga pucuk senapan mesin, dua dibagian belakang dan satu dibagian depan. (Foto: Berita HanKam)

Spesifikasi Teknis
- Panjang x lebar x tinggi: 8700 mm x 3500 mm x 2300 mm
- Berat: 20 ton
- Awak APC + pasukan: 2+20 personel
- Daya mesin: 520 HP/328 kw
- Kecepatan: 70 km/jam ( di darat), 14 km/jam (di laut)
- Jarak tempuh: 340 km (tanah lapang), 370 km (darat), 90 km (laut)
- Gradient maksimum: 35 derajat
- Kemiringan maksimum: 32 derajat

Sumber : Berita HanKam

Dokumentasi Seminar Nasional Pertahanan


206 Orang PT PAL Terpilih Dalam Pembuatan Kapal Selam Di Korsel


Berita Foto Pembukaan Indo Defence 2012



Jakarta - Kumpulan Foto Pembukaan Indo Defence 2012 yang diambil dari berbagai sumber. Acara ini berlansung dari tanggal 7 sampai 10 November.


































Sumber: Maju Indonesiaku